Salah satu siswa akhirnya mengaku, namun situasi justru semakin memanas.
Agus mengklaim bahwa siswa tersebut menantangnya secara verbal, sehingga ia bereaksi secara refleks dengan menampar siswa tersebut satu kali.
“Itu refleks, satu kali tamparan. Itu awal kejadiannya,” ujar Agus.
Video Viral dan Upaya Mediasi
Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan suasana tegang antara guru dan siswa.
Dalam video tersebut, terlihat adanya aksi saling pukul sebelum akhirnya guru-guru lain turun tangan untuk meredakan situasi.
Pihak sekolah kemudian mengupayakan mediasi antara Agus dan para siswa. Dalam proses tersebut, muncul tudingan bahwa Agus sempat menghina siswa dengan menyebut kata “miskin”.
Bantahan Tudingan Menghina Siswa
Agus membantah tudingan tersebut dan menegaskan bahwa ucapannya disampaikan dalam konteks motivasi, bukan ejekan.
“Saya mengatakan itu sebagai motivasi. Kalau kita kurang mampu, jangan bertingkah macam-macam. Itu konteksnya umum, bukan menghina,” jelasnya.
Dalam mediasi, Agus bahkan memberikan opsi kepada siswa untuk membuat petisi jika tidak menginginkannya mengajar lagi.
Namun, siswa justru meminta agar Agus menyampaikan permintaan maaf. Mediasi tersebut tidak mencapai kesepakatan.
Situasi Memanas hingga Pengeroyokan Terjadi
Ketegangan kembali memuncak saat jam istirahat. Sejumlah siswa dari berbagai angkatan melakukan aksi solidaritas, yang berujung pada pengeroyokan terhadap Agus.
Bahkan, disebutkan terjadi pelemparan batu ke arah sang guru.
“Setelah mediasi itu, saya diajak komite ke kantor. Di situlah pengeroyokan terjadi,” ungkap Agus.
Pertimbangan Langkah Hukum
Meski mengaku menjadi korban kekerasan, Agus menyatakan masih mempertimbangkan untuk menempuh jalur hukum.