dipanggil dengan sebutan “Bapak” dan justru meminta siswa memanggilnya dengan sebutan tertentu.
MLF menyebut bahwa guru tersebut kerap marah apabila disapa dengan panggilan formal, sehingga siswa terbiasa menggunakan panggilan yang dianggap lebih akrab.
Klaim ini kemudian memicu perdebatan di kalangan warganet, mengingat panggilan terhadap guru umumnya memiliki norma tersendiri dalam dunia pendidikan.
Baca Juga: Basarnas Konfirmasi Temuan Serpihan Pesawat ATR 42-500 di Gunung Bulusaraung Usai Laporan Pendaki
Pengeroyokan Disebut Aksi Spontan
MLF menegaskan bahwa pengeroyokan terhadap Agus bukanlah tindakan yang direncanakan.
Menurutnya, peristiwa itu terjadi secara spontan ketika situasi semakin memanas di area kantor sekolah.
Ia menceritakan bahwa setelah kejadian di kelas, Agus dibawa ke kantor oleh pihak komite sekolah. Namun, di lokasi tersebut, ketegangan kembali meningkat.
“Pas saya sampai depan muka dia, dia langsung meninju saya di bagian hidung,” ujar MLF.
Ia mengklaim bahwa beberapa siswa lain yang berada di sekitar lokasi melihat langsung kejadian tersebut, sehingga emosi mereka terpancing.
“Spontan kawan saya langsung mengeroyok dia. Kalau enggak ada dia meninju duluan, enggak akan ada pengeroyokan,” tegasnya.
Baca Juga: Wacana Pilkada Dipilih DPRD Kembali Mencuat, Pengamat Nilai Berpotensi Gerus Kepercayaan Publik
Kronologi Versi Guru : Teguran karena Sikap Tak Hormat
Di sisi lain, Agus Saputra telah lebih dulu membeberkan kronologi versinya melalui unggahan Instagram @jambisharing pada Kamis, 15 Januari 2026.
Dalam keterangannya, Agus menyebut bahwa peristiwa bermula dari teguran terhadap siswa yang dinilainya bersikap tidak sopan.
“Kejadiannya berawal dari peneguran siswa di kelas. Dia menegur dengan tidak hormat dan tidak sopan kepada saya, dengan meneriakkan kata yang tidak pantas saat belajar,” ungkap Agus.
Merasa martabatnya sebagai pendidik direndahkan, Agus kemudian mendatangi kelas asal suara tersebut dan meminta siswa yang bersangkutan mengakui perbuatannya.