Keputusan itu diambil demi menyelamatkan nyawa, meski hujan deras masih terus mengguyur kawasan tersebut.
“Kami sebanyak 18 orang naik satu per satu ke atas atap dan hujan deras cuma bertutupkan terpal 1x2 meter,” ungkapnya.
Kondisi di atas atap jauh dari kata aman. Terpal kecil menjadi satu-satunya pelindung dari hujan dan angin.
Di tengah suhu dingin dan kondisi basah, seorang bayi harus bertahan selama berjam-jam.
“Bayangin, anak bayi harus merasakan dinginnya hujan dari siang hingga ke pagi,” imbuhnya.
Dalam video yang diunggah, terlihat warga satu per satu menaiki atap rumah dengan sangat hati-hati.
Tepat di bawah mereka, air banjir berwarna cokelat dengan arus deras terus mengalir, membawa potongan kayu dan puing lainnya.
Baca Juga: Hidup di Tengah Krisis Air Bersih, Warga Tamiang Hulu Gunakan Air Banjir untuk Aktivitas Sehari-hari
Malam Gelap Gulita, Teriakan Minta Tolong Tak Henti
Memasuki malam hari, situasi semakin mencekam. Listrik padam total, membuat kawasan tersebut gelap gulita.
Dari atas atap rumah, para warga hanya bisa mengandalkan suara untuk meminta pertolongan.
“Sampai malam hari pun kami cuma bisa teriak-teriak minta tolong supaya tim SAR datang, sahut-sahutan sama korban lain, bantu kalau-kalau ada pertolongan,” tulisnya.
Di tengah kepanikan dan kelelahan, momen paling membekas bagi warga tersebut adalah saat melihat anaknya tertidur di bawah guyuran hujan.
“Dan di momen inilah part yang paling nggak bisa dilupakan, anakku kehujanan tapi dia tidur sepanjang malam,” tuturnya.
Kisah ini menjadi potret nyata betapa warga Aceh Tamiang harus berjuang sendiri selama berjam-jam sebelum bantuan datang, menghadapi banjir dalam kondisi yang sangat minim perlindungan.
Baca Juga: Pascabanjir di Bener Meriah, Jembatan Darurat Masih Rawan dan Akses Logistik Terhambat