“Prioritas operasi yang kami laksanakan saat ini yaitu melaksanakan assesmen cepat menggunakan udara,” tegas Syafii.
Helikopter dikerahkan tidak hanya untuk evakuasi korban, tetapi juga membawa logistik seperti makanan siap saji, obat-obatan, dan alat komunikasi portable ke daerah-daerah yang sama sekali tidak dapat dijangkau tim darat.
“Begitu juga kami membantu pemerintah untuk distribusi logistik baik itu menggunakan heli maupun kapal di mana titik-titik yang belum terjangkau dengan menggunakan akses jalan darat,” jelasnya.
Di beberapa lokasi, warga terpaksa membuat sinyal darurat manual atau membakar rumput kering untuk menarik perhatian helikopter karena perangkat komunikasi mereka rusak diterjang banjir.
Baca Juga: BNPB : Tantangan Terbesar Pemulihan Bencana Sumatera Ada pada Akses Jalan dan Komunikasi
Keputusan Penghentian Operasi SAR : Mengikuti Standar, Bukan Keinginan
Syafii menegaskan bahwa operasi SAR tidak akan dihentikan sebelum semua prosedur terpenuhi.
Namun, ia tetap menjelaskan bahwa pada titik tertentu, standar operasi internasional menentukan kapan pencarian dihentikan secara resmi.
“Apabila korban sudah tidak efektif lagi untuk dicari, atau kemampuan tidak memungkinkan, biasanya di situlah kami akan menghentikan operasi,” ujarnya.
Meski demikian, ia menekankan bahwa hingga hari ini, Basarnas masih menemukan tanda-tanda keberadaan korban di beberapa titik, sehingga seluruh upaya tetap berlanjut secara maksimal. *****