Wirausaha Hijau dan Pembiayaan Berkelanjutan
Narasumber lain, Junaedi, S.E., M.M, dosen senior IPTI, menggarisbawahi pentingnya green entrepreneurial orientation dalam menciptakan model bisnis berkelanjutan.
Ia menilai, literasi lingkungan yang rendah dan keterbatasan modal masih menjadi hambatan bagi banyak pelaku UMKM.
“Diperlukan pendampingan berkelanjutan, pelatihan kompetensi hijau, dan dukungan pembiayaan ramah lingkungan,” katanya.
Dukungan finansial tersebut turut dijelaskan oleh Lutfi Alhazami, S.E., M.M, Kepala Pusat MKCU dan MBKM UNDIRA, yang menguraikan berbagai instrumen keuangan hijau seperti green bonds, sustainability-linked loans (SLL), dan carbon credits.
Ia mencontohkan studi kasus PT Surya Terang, yang berhasil menurunkan biaya operasional sekaligus meningkatkan reputasi melalui penerapan prinsip keuangan berkelanjutan.
Kolaborasi Akademisi, Industri, dan Pemerintah
Dari hasil diskusi, para narasumber sepakat bahwa percepatan transformasi hijau di Indonesia memerlukan sinergi tiga pilar utama: akademisi, industri, dan pemerintah (triple helix).
Baca Juga: Desa Penglipuran Bali: Desa Terbersih di Dunia yang Menjadi Inspirasi Keberlanjutan Lingkungan
Pemerintah diharapkan memperkuat kebijakan dan insentif bagi perusahaan yang menerapkan prinsip keberlanjutan, sementara perguruan tinggi perlu mengintegrasikan kurikulum berbasis lingkungan dalam berbagai disiplin ilmu.
Tingginya partisipasi mahasiswa—mencapai 94,2 persen dari total peserta—menunjukkan potensi besar generasi muda dalam mendorong perubahan menuju ekonomi hijau.
Namun, keterlibatan langsung pelaku usaha dinilai masih perlu ditingkatkan melalui kegiatan edukatif dan pendampingan lapangan.
Baca Juga: Industri Hijau Maluku: Pilar Pertumbuhan Ekonomi dan Keberlanjutan
Membangun Ekosistem Bisnis Berkelanjutan