WartaPesona.com - Rio de Janeiro – Kehadiran Presiden RI Prabowo Subianto dalam KTT BRICS ke-17 di Brasil bukan hanya menjadi simbol keanggotaan penuh Indonesia di forum strategis negara-negara berkembang, tetapi juga momen penting untuk mendorong ekspansi produk Indonesia ke pasar global.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, yang turut mendampingi dalam pertemuan tersebut, menyampaikan bahwa Indonesia sangat berkepentingan agar BRICS tidak sekadar menjadi forum politik, namun juga motor penggerak kerja sama ekonomi yang nyata.
“Kita dorong BRICS juga menjadi pasar bagi produk-produk Indonesia, terutama di tengah situasi global yang penuh ketidakpastian,” ujar Airlangga usai pertemuan.
Baca Juga: Dari Fragmentasi ke Kolaborasi: Teguh Anantawikrama Dukung Transformasi Indonesia Era Prabowo
Menurutnya, hasil utama dari KTT ini adalah Leaders Declaration yang memuat empat pokok kesepakatan, salah satunya menyangkut penguatan multilateralisme dan reformasi tata kelola global yang lebih inklusif.
Poin Strategis dalam Leaders Declaration
Airlangga menjelaskan, poin kedua dalam deklarasi menjadi perhatian utama pemerintah Indonesia, yakni:
- Promosi perdamaian dan stabilitas internasional,
- Pendalaman kerja sama ekonomi internasional,
- Kolaborasi perdagangan dan keuangan antarnegara BRICS.
“Poin-poin ini membuka peluang nyata agar BRICS bukan hanya panggung geopolitik, tapi juga wadah konkret untuk memperluas pasar ekspor Indonesia,” katanya.
Dengan komposisi BRICS yang kini mewakili negara-negara dengan populasi besar dan pertumbuhan ekonomi dinamis, Indonesia melihat kesempatan untuk memperluas akses produk agrikultur, manufaktur, digital, dan UMKM lokal.
Baca Juga: Jejak Hilirisasi Era Prabowo: Proyek Baterai Terbesar Asia Tenggara Resmi Dimulai
Anggota BRICS Semakin Relevan secara Ekonomi
Forum BRICS kini beranggotakan 10 negara: Brasil, Rusia, India, China, Afrika Selatan, Indonesia, Mesir, Ethiopia, Iran, dan Uni Emirat Arab.
Dengan bergabungnya Indonesia sejak Januari 2025, peluang ekspor ke Afrika, Timur Tengah, dan Eurasia semakin terbuka lebar.
Langkah ini sejalan dengan misi Presiden Prabowo yang ingin menjadikan Indonesia lebih aktif dalam diplomasi ekonomi, terutama di tengah gejolak global dan fragmentasi ekonomi dunia. ***(SA)