Daryono menjelaskan, jika Zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut adalah sebuah potensi yang diduga oleh para ahli sebagai zona kekosongan gempa besar atau seismic gap yang sudah berlangsung ratusan tahun.
Baca Juga: Benarkah minum obat hipertensi dalam waktu lama bisa menyebabkan gagal ginjal?
"Seismic gap ini memang harus kita waspadai, karena dapat melepaskan energi gempa signifikan yang dapat terjadi sewaktu-waktu," kata Daryono dalam siaran pers, Senin (19/8/2024).
Dia juga mengatakan, munculnya kembali pembahasan potensi gempa di zona Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut tidak ada kaitannya secara langsung dengan peristiwa gempa kuat di Tunjaman Nankai Jepang.
Namun, gempa yang memicu tsunami kecil di Jepang itu memunculkan kekhawatiran bagi para ilmuwan, dan pejabat negara di negara itu akan potensi terjadinya gempa dahsyat di Megathrust Nankai.
Baca Juga: Malam Solidaritas Palestina Sandiaga Uno-BAZNAS RI kumpulkan infaq kemanusiaan Rp767 juta
Daryono menilai, peristiwa itu menjadi momen yang tepat untuk mengingatkan pula adanya potensi serupa di Indonesia yaitu gempa megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Daryono menjelaskan berdasarkan sejarahnya, gempa besar terakhir di Tunjaman Nankai terjadi pada 1946 (usia seismic gap 78 tahun).
Sedangkan gempa besar terakhir di Selat Sunda terjadi pada 1757 (usia seismic gap 267 tahun), dan gempa besar terakhir di Mentawai-Siberut terjadi pada 1797 (usia seismic gap 227 tahun).
"Artinya, kedua seismic gap kita periodisitasnya jauh lebih lama dari Nankai, sehingga mestinya kita jauh lebih serius dalam menyiapkan upaya-upaya mitigasinya," kata Daryono.
Sementara itu, gempa di Selat Sunda dan Mentawai-Siberut disebutkan hanya tinggal menunggu waktu karena keduanya sudah ratusan tahun belum terjadi gempa besar.
"Tetapi, bukan berarti hal itu segera akan terjadi gempa dalam waktu dekat,"kata Daryono, menegaskan.
Baca Juga: Polemik Paskibraka 2024 putri tak berhijab, DPR sayangkan tak ada petunjuk jelas di SK BPIP
Lebih jauh dia mengungkapkan, gempa megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut disebutkan tinggal menunggu waktu karena segmen-segmen sumber gempa di sekitarnya sudah rilis gempa besar semua, sedangkan Selat Sunda dan Mentawai-Siberut hingga saat ini belum terjadi.