WartaPesona.com - Di balik semarak persiapan menyambut bulan suci Ramadhan, ada pilu mendalam yang dirasakan sebagian warga di Aceh.
Hingga kini, ratusan keluarga masih berjuang memulihkan diri pascabanjir bandang yang melanda wilayah tersebut pada akhir November 2025 lalu.
Hampir tiga bulan berlalu sejak bencana terjadi, sejumlah warga masih bertahan di tenda-tenda pengungsian.
Di salah satu posko, seorang ibu korban banjir bandang tak kuasa menahan tangis saat mengenang Ramadan tahun lalu yang ia jalani bersama keluarga di rumahnya.
“Seharusnya kami bisa menyambut Ramadan, tapi rumah kami sudah hilang terbawa banjir,” tutur sang ibu dengan suara bergetar, sebagaimana dikutip dari unggahan Instagram @seputaraceh, Selasa, 17 Februari 2026.
Baca Juga: Ramadan di Pengungsian Aceh Tamiang, Harapan dan Doa Warga di Tengah Ujian Bencana
Kenangan Sahur yang Tak Terlupakan
Dalam curahan hatinya, sang ibu mengenang kebiasaan sederhana yang selalu ia lakukan setiap kali Ramadan tiba.
Momen sahur bersama keluarga di rumah menjadi kenangan yang kini terasa sangat mahal.
“Biasanya kami kalau mau sahur, sebelum tidur sudah masak nasi,” kenangnya.
“Nanti, apa yang ada di kulkas, tinggal dimasak,” lanjutnya.
Rutinitas sederhana itu menjadi simbol kehangatan keluarga yang kini hanya tersisa dalam ingatan.
Rumah yang selama ini menjadi tempat berkumpul dan beribadah bersama telah lenyap tersapu derasnya arus banjir bandang.
Baca Juga: Belum Pulih dari Bencana 2025, Tapanuli Tengah Kembali Diterjang Banjir-Longsor
Sahur Kini di Posko Pengungsian
Kondisi saat ini jauh berbeda. Sang ibu mengaku tidak lagi memiliki peralatan rumah tangga, termasuk lemari pendingin untuk menyimpan bahan makanan.
Segala kebutuhan harus dipenuhi secara terbatas dan serba darurat.
Artikel Terkait
Pemulihan Pascabencana, Sekolah dan Pesantren di Sumbar Dikebut Perbaikannya
Belum Punya Hunian Layak, Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Jalani Hari di Tenda Darurat
Belum Pulih dari Bencana 2025, Tapanuli Tengah Kembali Diterjang Banjir-Longsor
Ramadan di Pengungsian Aceh Tamiang, Harapan dan Doa Warga di Tengah Ujian Bencana