Baca Juga: Kasus Tuduhan Es Spons Berakhir, Pedagang Es Jadul Dapat Perbaikan Rumah dan Pendidikan Anak
MBG Dinilai Lebih Mendesak
Dalam penjelasannya, Rachmat kembali menekankan bahwa istilah "lebih mendesak" tidak berarti mengesampingkan pentingnya pembukaan lapangan kerja.
Ia menilai kedua hal tersebut saling melengkapi, namun ada kondisi-kondisi tertentu yang membuat pemenuhan gizi masyarakat harus segera dilakukan.
"MBG penting, lapangan kerja penting, tetapi MBG lebih mendesak," ujar Rachmat.
Ia kemudian menggunakan analogi yang kerap disampaikan dalam diskursus kebijakan publik, yakni perumpamaan antara memberi kail dan memberi ikan.
"Ada yang bilang, tolong kasih kail, jangan ikan. Tapi kalau dikasih kail, sudah keburu mati," terangnya.
Menurut Rachmat, dalam kondisi masyarakat yang mengalami kelaparan atau kekurangan gizi, bantuan langsung berupa pemenuhan kebutuhan dasar menjadi sangat krusial.
Setelah kebutuhan dasar tersebut terpenuhi, barulah program-program pemberdayaan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja dapat berjalan secara lebih efektif.
Baca Juga: Setelah Berbulan-bulan Mengungsi, Korban Banjir Agam Sumbar Kini Tempati Huntara
Soroti Kondisi Warga di Pelosok Desa
Lebih lanjut, Rachmat menyinggung masih adanya fenomena kelaparan dan ketertinggalan sosial di berbagai wilayah pelosok Indonesia.
Ia mengaku sering menyaksikan langsung kondisi tersebut saat mendampingi Presiden dalam berbagai agenda kunjungan kerja.
"Cobalah lihat saudara-saudara kita di ujung pelosok desa, mereka lapar, mereka kelaparan," tutur Rachmat.
Ia juga mencontohkan kondisi dunia pendidikan di daerah-daerah tertinggal yang masih memprihatinkan.
Menurutnya, persoalan gizi dan pendidikan saling berkaitan dan tidak bisa dipisahkan.
"Ketika saya harus mendampingi Pak Presiden meresmikan sekolah rakyat, anak-anak kita SMP, SMA tidak bisa baca tulis. Dan itu banyak sekali," ungkapnya.
Artikel Terkait
Aksi Petugas SPPG Menantang Ombak Danau Sentani Demi Antar MBG
Setelah Berbulan-bulan Mengungsi, Korban Banjir Agam Sumbar Kini Tempati Huntara
Kasus Tuduhan Es Spons Berakhir, Pedagang Es Jadul Dapat Perbaikan Rumah dan Pendidikan Anak
Ratusan Siswa SMAN 2 Kudus Alami Gejala Keracunan usai Santap MBG, Puluhan Ambulan Dikerahkan