Keputusan itu diambil setelah berdiskusi dengan Aqia dan manajernya, Ubay. Menurut Fiersa, Aqia tidak ingin persoalan itu diperpanjang.
“Aqia tidak mau. Ubay juga memberikan pertimbangan logis,” ungkap Fiersa.
Ia menyadari, pelaku bukanlah orang berada. Tawaran uang Rp200 ribu bahkan belum mencakup biaya rumah sakit.
“Belum diminta ganti biaya rumah sakit, sudah menawarkan Rp200 ribu. Dan katanya memang cuma punya uang segitu,” tambahnya.
Selain itu, pelaku mengaku hanya meminjam mobil, yang terlihat dari kondisi kendaraan yang tidak terawat.
Fiersa menilai, jika laporan dilanjutkan, mobil tersebut kemungkinan akan disita, sementara pihaknya harus bolak-balik mengurus proses hukum yang panjang.
“Hasil akhirnya apa? Belum tentu memberi efek jera. Bisa jadi malah menyisakan dendam,” tulisnya.
Sanksi Tilang dan Refleksi Diri
Meski laporan dicabut, Fiersa menyebut pelaku tetap mendapatkan sanksi tilang yang akan disidangkan pada akhir Januari 2026. Bagi Aqia, hal itu sudah dirasa cukup.
Namun, Fiersa menegaskan bahwa pencabutan laporan bukan berarti memaafkan sepenuhnya.
“Pencabutan laporan bukan berarti memaafkan. Karena memaafkan itu urusan keikhlasan, bukan paksaan,” ucapnya.
Dalam refleksinya, Fiersa juga mengungkap bahwa dirinya beberapa kali nyaris terpancing emosi dan berkata kasar.
“Saya sempat kelepasan bilang, ‘Pak, gaji saya sebulan juga bisa beli mobil bapak. Ini bukan soal uang’,” ungkapnya.
Untungnya, sang manajer segera menenangkannya agar tidak terjadi hal yang bisa disalahartikan di media sosial.
“Nah ini yang rumit. Kalau sampai terekam dan dipotong-potong tanpa konteks, bisa dianggap abuse of power,” jelasnya.
“Salam Olahraga” yang Urung Terjadi
Menutup ceritanya, Fiersa menyelipkan nada humor getir.