Rekaman seismograf pada peristiwa itu menunjukkan amplitudo maksimum mencapai 40 mm dengan durasi 16 menit 40 detik.
Kondisi tersebut menjadi dasar peningkatan status Semeru ke Level IV Awas.
Tekanan Bawah Permukaan Masih Tinggi
Wafid menyebut bahwa pola kegempaan menunjukkan masih adanya impuls material dari bawah permukaan gunung.
“Variasi kecepatan relatif mengalami penurunan sejak pertengahan Oktober, mengindikasikan tekanan di tubuh gunung terus meningkat,” jelasnya.
Pemantauan deformasi juga menunjukkan pola stabil yang tetap memerlukan pengawasan ketat.
Baca Juga: Tragedi Gempa Filipina 2025: 72 Orang Tewas, Puluhan Luka, dan Respons KBRI Manila
143 Hewan Ternak Terdampak Erupsi
Dinas Peternakan DKPP Lumajang melaporkan sedikitnya 143 hewan ternak mati akibat diterjang material erupsi pada 19 November.
Rinciannya terdiri dari 139 kambing dan domba serta 4 ekor sapi. Pemerintah Kabupaten Lumajang telah menetapkan status Tanggap Darurat hingga 26 November 2025 untuk menangani dampak lanjutan.
Hingga kini, Gunung Semeru masih berstatus Level IV Awas. Warga diminta mematuhi seluruh instruksi petugas dan menjauhi kawasan rawan untuk menghindari potensi korban jiwa.***
Artikel Terkait
Mendaki Puncak Impian: Panduan Lengkap Traveling Naik Gunung
Naik Gunung, Naik Hidup: Filosofi Mendaki Rinjani via Sembalun
Persiapan Mendaki Gunung: Tips, Perlengkapan, dan Panduan Lengkap
Misteri Kematian Pendaki Gunung Gawalise: Ditemukan 200 Meter dari Puncak, Evakuasi Penuh Risiko