Hijrah sebagai Transformasi Makna: Pesan Menag Sambut Tahun Baru Islam 1447 H

photo author
Anne Ardianti, Warta Pesona
- Kamis, 26 Juni 2025 | 23:58 WIB
Ilustrasi - Kemenag Tahun Baru Islam 1447 H. (Foto: kemenag.go.id)
Ilustrasi - Kemenag Tahun Baru Islam 1447 H. (Foto: kemenag.go.id)

WartaPesona.com- Jakarta, 26 Juni 2025 – Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1447 Hijriah, Menteri Agama Republik Indonesia, Nasaruddin Umar, menyampaikan pesan reflektif yang sarat makna.

Dalam sambutannya, Menag mengingatkan bahwa hijrah bukan hanya peristiwa historis perpindahan Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah, melainkan juga simbol perjalanan spiritual dan transformasi nilai dalam kehidupan umat.

"Selamat Tahun Baru 1447 Hijriah untuk seluruh umat Islam. Hijrah yang sejati adalah perubahan dari gelap menuju terang, dari stagnasi menuju pertumbuhan, dari kebiasaan yang kosong makna menuju tindakan yang penuh nilai," ujar Menag dalam pernyataannya di Jakarta.

Baca Juga: Segarnya Infused Water: Rahasia Hidrasi Sehat Alami dengan Rasa yang Memikat

Mengutip Surah At-Taubah ayat 20, Menag menekankan bahwa derajat tertinggi dalam pandangan Allah SWT adalah bagi mereka yang beriman, berhijrah, dan berjihad dengan harta serta jiwa. "Itu menunjukkan bahwa hijrah adalah proses menuju kemuliaan, bukan hanya perubahan geografis," jelasnya.

Menag juga mengajak masyarakat untuk merenungi sejauh mana hijrah telah diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

"Sudahkah kita berhijrah dari identitas Islam yang simbolik ke Islam yang substantif? Sudahkah kejujuran, kasih sayang, dan tanggung jawab mewarnai laku hidup kita?" tanyanya.

Baca Juga: Bye-bye Iritasi! 5 Bahan Skincare Ini Pantang Disentuh Kulit Sensitif

Tahun Baru Islam, lanjut Menag, memang tidak dirayakan dengan pesta meriah. Namun justru dalam kesunyian, zikir, dan perenungan yang dalam, terdapat kekuatan perubahan yang sejati.

Ia juga mengapresiasi tradisi-tradisi lokal seperti Tabuik di Pariaman dan Grebeg Suro di Jawa sebagai wujud harmonisasi antara nilai Islam dan budaya Nusantara.

"Islam di Indonesia adalah Islam yang membumi, yang tidak kehilangan kemurnian, namun juga merangkul kearifan lokal.

Baca Juga: Topeng Apa yang Sedang Anda Kenakan? Mengungkap Alasan Pentingnya Kejujuran pada Diri Sendiri

Tugas kita bukan hanya melestarikan ritus, tapi menghidupkan semangat hijrah dalam keluarga, pendidikan, birokrasi, hingga media sosial," tambahnya.

Sebagai penutup, Menag mengajak umat menyambut tahun baru ini dengan tiga sikap utama: bersyukur atas kesempatan hidup, berhijrah menuju kualitas yang lebih baik, dan berkontribusi nyata bagi sesama.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Anne Ardianti

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Dadan Hindayana Cs Dijebloskan ke Tahanan

Rabu, 3 Juni 2026 | 18:45 WIB
X