WartaPesona.com - Era kepemimpinan Prabowo Subianto semakin dekat, dan berbagai wacana terkait pembenahan birokrasi mulai mengemuka.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan menyebutkan, strategi birokrasi Prabowo akan menggabungkan berbagai pendekatan dari era Orde Baru, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, hingga Presiden Jokowi, dengan fokus pada efisiensi.
Dalam upaya tersebut, muncul rencana penambahan jumlah kementerian di bawah kepemimpinan Prabowo, dari 34 menjadi sekitar 44.
Langkah ini menimbulkan pertanyaan mengenai komitmen Prabowo terhadap reformasi birokrasi dan bagaimana prinsip koalisi besar akan memengaruhi keadilan dalam pemerintahan.
Baca Juga: Prabowo Subianto Pamit di Rapat Terakhir dengan DPR: Tugas Besar Menanti Bangsa
Prinsip Koalisi Besar dan Dominasi Partai Politik
Prinsip koalisi besar mengacu pada konsensus pemerintahan, di mana semua elemen politik bekerja sama untuk kepentingan negara.
Namun, koalisi yang gemuk juga berpotensi memperbesar dominasi elite partai politik, yang menurut survei terbaru, mendapat tingkat kepercayaan terendah dari masyarakat.
Menurut Survei Indikator, partai politik dan DPR-RI berada di peringkat terendah dalam hal kepercayaan masyarakat, sementara TNI dan Presiden meraih tingkat kepercayaan yang lebih tinggi.
Tren ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin skeptis terhadap partai politik, mempertegas pentingnya peran analis kebijakan untuk mengisi celah antara pemerintah dan rakyat.
Analis Kebijakan: Jembatan Antara Rakyat dan Pemerintah
Di tengah rendahnya kepercayaan masyarakat terhadap elite politik, peran analis kebijakan menjadi semakin krusial.
Artikel Terkait
Prabowo Subianto Pamit di Rapat Terakhir dengan DPR: Tugas Besar Menanti Bangsa
Kasus Lolly dan Pentingnya Kesehatan Mental Remaja: Orang Tua Perlu Lebih Terlibat
China Luncurkan Rudal Balistik ke Pasifik, Berikut 5 Negara Pemilik Nuklir dan Rudal Paling Mematikan Di Dunia