WartaPesona.com - Calon Presiden nomor urut 2 untuk Pilpres 2024, Prabowo Subianto, menyampaikan komitmen terhadap kebebasan pers di Indonesia dalam sebuah diskusi di Gedung Dewan Pers, Jalan Kebon Sirih, Jakarta Pusat pada Kamis (4/1).
Prabowo, yang menyatakan keyakinannya pada demokrasi, mengungkapkan pandangannya terkait peran penting kebebasan pers dalam mengontrol penguasa.
Dalam acara tersebut, Prabowo menekankan bahwa meskipun pernah dituduh akan melakukan kudeta pada 1998, ia tetap meyakini dan mendukung prinsip demokrasi.
Baca Juga: Kukrit SW Memimpin Gerbong Tokoh Dukung Prabowo-Gibran di Jawa Tengah
Dengan penuh humor, Prabowo menyatakan, "Begini, Saudara-saudara, saya orang yang percaya dengan demokrasi. Saya rasa saya sudah buktikan komitmen saya dengan demokrasi. Saya bekas tentara, dulu banyak menuduh saya ini itu, mau kudeta, ya, kan. Tapi saya tidak kudeta. Berulang kali (orang menuduh), nggak tahu mungkin muka saya muka kudeta kali," sambil disambut tawa hadirin.
Selain itu, Prabowo berbagi pengalamannya dalam proses demokrasi, termasuk kekalahan dalam beberapa pemilihan umum.
Ia menjelaskan bahwa sebagai pemimpin Gerindra, ia telah berpartisipasi dalam beberapa pemilu dan mengikuti aturan demokrasi dengan menghormati hasil pemilihan.
Baca Juga: Ganjar Pranowo: Menjanjikan Pemutihan Utang Petani untuk Kesejahteraan Agrikultur
Lebih lanjut, Prabowo menekankan pentingnya kebebasan pers sebagai alat untuk mengendalikan penguasa.
Menurutnya, pers harus dapat mengkritik dengan keras sebagai bentuk "check and balances" untuk menjaga keseimbangan kekuasaan.
"Yang kedua adalah kebebasan pers. Kebebasan untuk pers itu adalah check and balances, untuk mengendalikan si penguasa. Dan dengan kebebasan pers yang dengan dinamis, dan pers kalau perlu keras, kadang sakit hati kita baca. Namun hal itu juga mengendalikan kita, itu memberi tahu kita something wrong," ucapnya.
Prabowo juga menyoroti hubungan antara kekuatan pers dan kondisi sosial di negara.
Baca Juga: Debat Capres-Cawapres 2024: Jadwal, Tema, dan Format Tahap Ketiga Menuju Pilpres
Ia menyatakan bahwa negara dengan pers yang kuat cenderung memiliki kesadaran publik yang lebih tinggi terhadap masalah-masalah sosial, seperti kelaparan.
Artikel Terkait
Libur Natal dan Tahun Baru 2023-2024 Tandai Peningkatan Pesat di Bandara Soekarno-Hatta
Ganjar Pranowo: Menjanjikan Pemutihan Utang Petani untuk Kesejahteraan Agrikultur
Memberdayakan Pemuda Indonesia: Program Data Science for Youth Mentransformasi Masa Depan melalui Pendidikan Teknologi