WartaPesona.com- Tahun 2023 diproyeksikan akan menjadi tahun terpanas sejak dilakukannya pencatatan suhu dari beberapa abad lalu. Para ilmuwan bentukan uni eropa, layanan pemantau iklim Copernicus Climate Change Service, atau sebut saja (C3S).
Samantha Burges, selaku wakil C3S menyampaikan bahwa sampai 2023 Oktober suhu bumi rata-rata mencapai 1.43 derajat.
Angka tersebut nyaris mendekati 1,5 derajat celcius, hampir diambang batas yang telah disepakati oleh dunia internasional pada perjanjian paris tahun 2015 lalu.
Baca Juga: Kemenkes RI luncurkan Temulawak tanaman obat Indonesia unggulan, Menkes Budi harap bisa seperti ginseng Korea
Naiknya suhu bumi yakni disebabkan oleh lepasnya emisi gas rumah kaca (GRK) karena pembakaran bahan bakar fosil. Secara akumulatif membuat sinar matahari menjadi lebih banyak terperangkap.
Dilansir dari laman The Guardian, pada Rabu, 8 November 2023, Burgess mengatakan bahwa hampir pasti di tahun 2023 ini bisa menjadi tahun yang paling panas dari tahun-tahun sebelumnya yang pernah tercatat.
Dalam keterangannya, Burgess pun menyampaikan bahwa urgensi KTT COP28 akan melakukan aksi yang ambisius, mengingat terus meningkatnya suhu menjelang KTT COP28.
Baca Juga: Zodiak Pisces hari Jumat 10 November 2023, begitu banyak perhatian datang menghampiri
C3S telah menemukan, rata-rata suhu global dari bulan Januari sampai dengan Oktober 2023 adalah yang tertinggi dibanding catatan-catatan suhu sebelumnya. Suhu saat ini mengalahkan 10 bulan pada 2016 lalu yang sebelumnya menjadi pemegang rekor tahun terpanas hingga kini.
Kemudian, ilmuwan iklim asal Imperial College London Friederike Otto mengungkapkan bahwa di tahun ini dunia turut menyaksikan adanya fenomena luar biasa, berbagai fenomena tersebut seperti halnya kekeringan, dan gelombang panas yang semakin buruk, disebabkan oleh suhu yang ekstrem.
Berbagai macam fenomena ekstrem yang terjadi berdampak pada orang yang kehilangan mata pencaharian, pengungsian, bahkan hingga menyebabkan kematian, dan sebagainya.
Baca Juga: Zodiak Aquarius hari Jumat 10 November 2023, saatnya mengubah sikap, apa adanya!
Otto pun menambahkan ungkapannya, bahwa adanya fakta rekor tahun panas saat ini, berarti rekor pula penderitaan manusia.
Itulah yang menjadi penyebab perjanjian Paris merupakan perjanjian hak asasi manusia (HAM) dan bila tidak memenuhi tujuan yang telah tertuang didalamnya, maka pelanggaran tersebut menjadi pelanggaran HAM dengan skala besar.
Seorang peneliti meteorologi University of Reading, Akshay Deoras, dalam tuturnya mengatakan bahwa sejak juni lalu, Bumi mengalami suhu yang sangat tinggi dibanding dengan yang sebelum-sebelumnya.
Suhu Global sejak Juni 2023 sangat menakutkan, karena lebih hangat jika dibandingkan dengan paruh kedua pada tahun 2015 lalu, saat El Nino jauh lebih kuat, ucap Deoras.
Menurutnya, planet terus melampaui tonggak sejarah yang buruk dalam catatan sejarah meteorologinya. Sehingga tidak heran jika pada bulan-bulan berikut kita akan melihat rekor baru.
Sementara Richard Allan, ilmuwan iklim University of Reading, mengatakan bahwa cara satu-satunya yang dapat dilakukan guna mencegah Bumi agar tidak menjadi semakin panas ialah dengan cara mengurangi emisi GRK dengan cepat di semua sektor secara besar-besaran. ***
Penulis : Feri Candra
Artikel Terkait
Bardion: Tokusatsu Lokal yang Menyinari Dunia Film Indonesia
Jogja Cultural Wellness Festival 2023: Merayakan Kesejahteraan Budaya Sebulan Penuh
Baru sepekan jadi KSAD, Jenderal Agus Subiyanto diajukan sebagai Panglima TNI, begini alasan Presiden Jokowi
Buah Semangka jadi simbol dukungan kepada Palestina, begini riwayatnya
Bantuan Pangan berlanjut hingga Juni 2024, stok beras aman
Pameran HKN 2023 digelar di JCC Senayan Jakarta Pusat 9 November, ada deteksi dini kanker gratis!
Makna logo dan tema peringatan Hari Kesehatan Nasional (HKN) 2023, angka 59 berbentuk unik
Rekomendasi untuk di Kunjungi Wisatawan pada 2024, Jakarta di posisi ketujuh Versi Majalah AS, Lonely Planet
Kudus di Juluki Kota Kretek, Mengapa? Berikut Sejumlah Rangkuman Alasannya
Kemenkes RI luncurkan Temulawak tanaman obat Indonesia unggulan, Menkes Budi harap bisa seperti ginseng Korea