Pasukan Tentara dan Polisi Menangkap Mahasiswa yang Ingin Menggelar Demo Politik Dinasti

photo author
Syamsi Achdali, Warta Pesona
- Jumat, 20 Oktober 2023 | 18:57 WIB
BEM SI ikut demo politik dinasti. | WartaPesona.com
BEM SI ikut demo politik dinasti. | WartaPesona.com

WartaPesona.com - Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) mengutuk tindakan aparat yang melakukan penyisiran terhadap massa yang berencana melakukan aksi menentang politik dinasti.

Insiden ini terjadi di beberapa lokasi, termasuk Stasiun Gondangdia, Jakarta.

Baca Juga: Kemenparekraf : Meningkatkan Tata Kelola Data Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Melalui Forum Satu Data

BEM SI menegaskan bahwa tindakan aparat tersebut menghambat kebebasan mahasiswa dalam menyuarakan aspirasi terhadap pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) selama sembilan tahun.

"Pemeriksaan dilakukan oleh aparat di beberapa tempat, termasuk Stasiun Gondangdia. Tetap #JagaKawan," demikian pernyataan BEM SI yang disebarluaskan melalui berbagai media sosial pada Jumat (20/10/2023).

Berdasarkan pandangan BEM SI, aparat tidak memiliki dasar hukum untuk memeriksa barang-barang pribadi atau privasi individu.

Selain itu, BEM SI mengimbau agar mahasiswa menolak dengan tegas jika diarahkan ke kendaraan tahanan.

Aksi demonstrasi ini dilakukan sebagai bentuk protes tegas mahasiswa terhadap keputusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang membuka jalan bagi potensi politik dinasti Jokowi, khususnya terkait Gibran, dan dianggap memperpanjang praktik KKN.

Koordinator Media BEM SI, Ragner Angga, dalam keterangannya menyatakan bahwa keputusan MK berpotensi memperpanjang praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN).

Baca Juga: Sandiaga Uno dan Kertas Bekas: Meretas Jalan Menuju Kota Kreatif Bogor yang Berkelanjutan

Ragner juga menyebut bahwa aksi ini bersamaan dengan momentum sembilan tahun kepemimpinan Jokowi sebagai Presiden.

"BEM SI berpendapat bahwa Jokowi telah mengkhianati semangat reformasi. Hal ini terbukti dari berbagai kemunduran dan kelemahan di bidang hukum, hak asasi manusia (HAM), komersialisasi pendidikan, tindakan represif aparat, konflik agraria, dan keputusan investasi yang mengorbankan hak-hak rakyat," ujar Ragner. *** 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsi Achdali

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB
X