Rabu Wekasan, adalah Hari Rabu terakhir di bulan Syafar. Apa saja keistimewaan dari Hari Rabu Wekasan?

photo author
Feri Candra, Warta Pesona
- Selasa, 12 September 2023 | 11:59 WIB
 Background siluet wanita berjilbab dalam keterangan ceramahnya di acara pengajian Nahdlatul Ulama (NU) Online.  (Nahdlatul Ulama (NU) )
Background siluet wanita berjilbab dalam keterangan ceramahnya di acara pengajian Nahdlatul Ulama (NU) Online. (Nahdlatul Ulama (NU) )

WartaPesona.com- Rabu Wekasan, adalah hari dimana Rabu terakhir di bulan Syafar menurut penanggalan Hijriah.


Alangkah baiknya pada malam tersebut di isi dengan amal kebaikan agar Allah memberi rahmat serta ampunan kepada kita.


Pengertian dari Hari Rabu Wekasan adalah tradisi yang dilakukan pada setiap Hari Rabu terakhir di bulan Syafar dalam Almendak Islam atau Kalender Hijriah.

Baca Juga: Sandiaga Uno Buka World Tourism Network Summit 2023 dan Dukung Kemajuan Sektor MICE di Bali


Tradisi Rabu Wekasan, sering dilakukan oleh sebagian masyarakat Indonesia, terutama oleh penduduk adat masyarakat Jawa.


Tradisi Rabu Wekasan yang sudah mengakar bagi sebagian masyarakat Indonesia khususnya masyarakat Jawa, bermula dari kepercayaan masyarakat Nusantara yang menganggap bahwasannya bulan Syafar adalah bulan yang penuh kesialan.


Namun itu pandangan menurut sebagian masyarakat adat Nusantara yang berada di Pulau Jawa. (Wallahu a'lam bishawab)

Baca Juga: Begini kejahatan siber peretasan situs web terjadi dan dampak kerugiannya, SEO bisa tidak berfungsi


Namun dalam pandangan Islam, tidak ada satu bulan, hari atau waktu apa pun yang membawa keberuntungan atau kesialan.


Semua bulan, hari dan waktu sejatinya tergantung pada kehendak Allah SWT. Bukan pada bulan, hari, atau waktu tertentu, lebih jauh dari itu, Islam mengajarkan kepada setiap Ummatnya bahwasannya nasib atau takdir baik dan buruk adalah kehendak dari Allah SWT.


Bukan dari bulan, hari, waktu atau tindakan tertentu pada bulan tertentu.
Oleh sebab itu, bagi Ummat Muslim sangatlah penting untuk menjauhkan diri dari praktik-praktik atau pada keyakinan yang sekiranya bertentangan dengan ajaran Islam dan mengandalkan kepada yang lain selain Allah SWT.

Baca Juga: Sandiaga Uno Ajak Peserta AKI 2023 Berkolaborasi: Membangun Peluang Bersama untuk Masa Depan


Berikut ini, tegas langsung dijelaskan oleh Rasulullah tentang hadist riwayat Bukhari. Bahwasannya, tidak ada kesialan pada bulan Syafar.


لا عَدْوَى ولا طِيَرَةَ ولا هَامةَ ولا صَفَرَ وفِرَّ من المَجْذُومِ كما تَفِرُّ من الأَسَد
Sebagaimana Artinya :
Tidak ada penyakit menular, tidak ada ramalan buruk, tidak ada kesialan karena burung hammah, tidak ada kesialan pada Bulan Syafar, dan larilah kamu dari pada penyakit kusta sebagaimana kamu lari dari singa. (HR.Bukhari)
Hal ini selaras dengan apa yang dikatakan oleh Abdurrauf Al-Munawiy dalam kitab Faidh Al-Qadir, pada jilid 1 di halaman 62 yang mengingatkan kita bahwasannya pada semua hari adalah milik Allah dan tidak ada manfaat atau bahaya terlebih mengaitkan pada hari-hari tertentu dengan keyakinan atau kesialan ramalan.


وَالْحَاصِلُ أَنَّ تَوَقِّيَ يَوْمِ الْأَرْبِعَاءِ عَلَى جِهَةِ الطِّيَرَةِ وَطَنِّ اعْتِقَادِ الْمُنَجِّمِيْنَ حَرَامٌ شَدِيْدَ التَّحْرِيْمِ إِذِ الْأَيَّامُ كُلُّهَا للهِ تَعَالَى لَا تَضُرُّ وَلَا تَنْفَعُ بِذَاتِهَا وَبِدُوْنِ ذَلِكَ لَا ضَيْرَ وَلَا مَحْذُوْرَ وَمَنْ تَطَيَّرَ حَاقَتْ بِهِ نَحْوَسَتُهُ وَمَنْ أَيْقَنَ بِأّنَّهُ لَا يَضُرُّ وَلَا يَنْفَعُ إِلَّا اللهُ لَمْ يُؤَثِّرْ فِيْهِ شَيْءٌ مِنْ ذَلِكَ

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Anne Ardianti

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Dadan Hindayana Cs Dijebloskan ke Tahanan

Rabu, 3 Juni 2026 | 18:45 WIB
X