WartaPesona.com - Menurut Najwa Hafbi, "Seperti yang kita ketahui banyak manusia yang membuang sampah begitu saja sehingga akan mencemari lingkungan hidup. Dan yang kita rasakan efek tercemarnya lingkungan sangat amat membuat kita tidak nyaman, dan juga akan menjadi penyakit bahkan racun untuk tubuh kita."
Fenomena sampah di Indonesia, khususnya sampah plastik, merupakan masalah serius yang mempengaruhi lingkungan.
Menurut InSWA, Indonesia merupakan salah satu negara dengan produksi sampah plastik tertinggi di dunia, dengan 5,4 juta ton per tahun atau 14% dari total produksi sampah.
Baca Juga: Pesona Indahnya Gili Trawangan, Dari Sunset Hingga Dunia Bawah Laut, Berikut Ulasannya
Sampah plastik sulit terurai dan berdampak negatif terhadap lingkungan, termasuk pencemaran laut.
Selain itu, rendahnya retribusi sampah di Indonesia juga menjadi salah satu permasalahan mendasar dalam pengelolaan sampah.
Sampah plastik juga memiliki dampak ekonomi. Daur ulang sampah plastik dapat menghasilkan keuntungan yang signifikan, seperti diolah dengan baik, sampah plastik daur ulang dapat menghasilkan keuntungan sebesar Rp 16.379.472 per bulan dari produksi 48 ton sampah plastik.
Selain itu, dampak dari membuang sampah sembarangan juga mencakup kerugian yang tidak bisa dianggap sepele, seperti merusak pemandangan, mendatangkan bau yang tidak sedap, banjir, penyakit, dan pencemaran lingkungan.
Pengelolaan sampah plastik dan kesadaran akan pentingnya pengelolaan sampah secara bertanggung jawab menjadi kunci dalam mengatasi fenomena sampah di Indonesia.
Sampah plastik memiliki dampak negatif yang signifikan terhadap lingkungan dan kesehatan manusia. Berdasarkan beberapa sumber yang ditemukan, dampak negatif sampah plastik meliputi:
Dampak negatif bagi Lingkungan Hidup antara lain pencemaran Air dan Tanah, pemanasan Global, polusi Udara, mengacaukan Proses Rantai Makanan, bahaya Banjir.
Adapun dampak negatif dari sampah plastik bagi kesehatan tubuh antara lain gangguan pertumbuhan janin dan anak, kerusakan organ, kanker, gangguan imunitas, gangguan endokrin, dan penyakit berbahaya lainnya, Polusi udara dan air akibat pembakaran sampah plastik
Indonesia menduduki peringkat kedua sebagai negara penghasil sampah plastik terbesar di dunia, dengan produksi sekitar 64 juta ton sampah plastik setiap harinya.
Sampah plastik memerlukan waktu yang sangat lama untuk terurai, antara 100 hingga 500 tahun. Proses penguraian sampah plastik membutuhkan bantuan radiasi sinar UV dan bisa menghasilkan mikroplastik, senyawa kimia, dan logam berat yang lebih berbahaya.
Jambeck melakukan penelitian pada tahun 2015, yang menyatakan bahwa penyumbang plastik terbesar setelah china adalah Indonesia yang menempati peringkat kedua.
Dan Indonesia Center Environment Law (ICEL) menyatkan bahwa, Indonesia menghasilkan sampah plastik sekitar 3,2 juta ton dan 1,26 juta ton dan sebagian banyak yang masuk ke laut.
Baca Juga: Pelabuhan Sanur, Makna Desain, Hingga Filosofi Masyarakat Pesisir, Berikut Ulasannya
Jika dibiarkan terus menerus laut akan tercemar hingga mengganggu ekosistem laut, dimana diperkirakan pada tahun 2050 akan lebih banyak jumlah sampah plastik dilautan daripada jumlah ikan di lautan.
Pada tahun 2025, 70 persen Indonesia berencana akan mengurangi sampah plastik di laut dan meningkatkan daur ulang 30 persen.
Dan hal ini didukung oleh komitmen untuk menginvestasikan $1 milyar per tahun untuk meningkatkan infrastruktur pengolahan sampah.
Sehingga untuk menjaga lingkungan untuk tetap bersih, aman, dan Lestari. Lalu, bagaimana peran teknologi digital dalam menghadapi permasalahan tersebut?
Melalui pemanfaatan teknologi digital yang dapat mengubah persoalan sampah dan peluang bisnis dan berbagai inovasi Permasalahan sampah yang banyak di Tanah air dapat teratasi.
Cara cara yang menggunakan teknologi yang dinyatakan oleh Rusli Cahyadi Koordinator Kegiatan Urban Lecture pada acara P2K-Urban Lecture Series 16, yang seharusnya di gunakan oleh Masyarakat Indonesia.
Dan banyaknya dari masayrakat Indonesia sangat banyak yang menggunakan gadget, teknologi, dan aplikasi, sebagai satu potensi yang bisa dikembangakan, untuk mengatasi masalah sampah.
“Disisi lain, mengelola sampah harus menjadi bagian dari gaya hidup, bagian dari sesuatu yang dianggap keren oleh anak muda. Ada anak muda yang sudah mengepul sampah terutama sampah yang sudah didaur ulang mereka membuat lokasi, atau tempat penampungan yang bagus, bersih, dan wangi,” Jelasnya.
Untuk mengatasi sampah sekitar 67,8 juta ton pada tahun 2020 membutuhkan 200.000-an UMKM menurut Rusli dengan kemampuan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) daur ulang yang hanya sanggup menggiling/cacah plastik 20 ton per bulan dan para pendaur organik (baik metode BSF dan composting) juga hanya 20 ton per bulan.
Dalam sistem Mountrash, katanya, UMKM pengiling/cacah disebut Mountrash Collection Point (MCP) tentunya membutuhkan waktu 3-4 tenaga kerja untuk menjalankan usahanya. Selain itu, ada penambahan pengepul sampah yang bisa dibangun secara digital.
Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi yang salah satu tugasnya adalah melaksanakan tugas pemerintahan di bidang pengkajian dan penerapan teknologi, melalui Tim Lingkungan terpanggil untuk menyampaikan beberapa pandangan dan rekomendasi dari aspek teknologi untuk mendukung kebijakan/keinginan Presiden.
Dalam penyelesaian permasalahan persampakan kota-kota besar di Indonesia, mau tidak mau harus menggunakan teknologi proses termal yang secara prinsip dapat meniadakan/mengurangi masa timbunan sampah dalam jumlah besar dan cepat.
Dengan proses ini, timbunan limbah padat (sampah) dalam jumlah besar melalui proses thermal (panas) dapat diubah menjadi panas yang kemudian dikonversikan menjadi energi dalam bentuk energi listrik.
Dua keuntungan yang diperoleh dengan menggunakan proses ini adalah :
Artikel Terkait
Zodiak Capricorn hari Senin 4 Desember 2023, masalah tidak terungkap mengganggu keharmonisan cinta
Kementerian PUPR, Gelar Pameran Water Art Installation Di GBK Arena
Merbabu Park Semarang, Dari Jam Buka, Harga Tiket, Hingga Daya Tarik, Berikut Ulasannya
Pelabuhan Sanur, Makna Desain, Hingga Filosofi Masyarakat Pesisir, Berikut Ulasannya
Pesona Indahnya Gili Trawangan, Dari Sunset Hingga Dunia Bawah Laut, Berikut Ulasannya