OCE Indonesia Buka AI Strategic Class Sesi 1: Tekankan AI sebagai Alat, Bukan Ancaman

photo author
Dinda Virgia Yurendira, Warta Pesona
- Minggu, 22 Februari 2026 | 15:42 WIB
Flayer AI Strategic Class : The Beginning #1 - Wartapesona.com (Tim OK OCE  Indonesia)
Flayer AI Strategic Class : The Beginning #1 - Wartapesona.com (Tim OK OCE Indonesia)

Wartapesona.com - OK OCE Indonesia menggelar pertemuan pertama program AI Strategic Class: The Beginning bertajuk “Mengenal Dunia AI: Cara Mudah Memanfaatkan Teknologi di Kehidupan Sehari-hari” secara daring melalui Zoom.

Sesi ini menghadirkan Rully Mardjono sebagai pemateri utama yang membahas fondasi dasar kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan relevansinya dalam kehidupan modern.

Dalam sesi pembuka, peserta diperkenalkan pada pemahaman mendasar mengenai AI sebagai teknologi yang memungkinkan mesin meniru kemampuan kognitif manusia, seperti memahami bahasa, mengenali gambar, membuat keputusan, serta belajar dari data. AI dijelaskan melalui tiga kemampuan utama: learning (pembelajaran), reasoning (penalaran), dan self-correction (koreksi diri).

Materi menekankan bahwa AI bukan lagi teknologi masa depan, melainkan teknologi masa kini yang sudah terintegrasi dalam berbagai layanan digital yang digunakan masyarakat sehari-hari.

Dokumentasi Acara - Wartapesona.com
Dokumentasi Acara - Wartapesona.com (Tim OK OCE Indonesia)

Tingkat Awareness AI di Indonesia Sangat Tinggi

Data yang dipaparkan dalam sesi menunjukkan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Indonesia terhadap AI termasuk yang tertinggi di Asia.

Sebanyak 97% responden menyadari bahwa layanan yang mereka gunakan telah berbasis AI, 91% memiliki awareness terhadap teknologi ini, dan 80% menyatakan antusias terhadap produk berbasis AI.

Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah siap memasuki era AI. Tantangannya bukan lagi pada penerimaan teknologi, melainkan pada pemanfaatannya secara optimal dan produktif.

Namun demikian, terdapat sejumlah dinamika yang perlu dicermati. AI dinilai telah memengaruhi cara publik mengonsumsi hiburan dan budaya. Sebagian responden merasa lebih sering mengakses konten mancanegara dibandingkan budaya lokal, memunculkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan identitas budaya. Di sisi lain, mayoritas publik tetap memandang AI sebagai alat yang dapat memperkaya proses kreatif, bukan menggantikan sepenuhnya peran manusia.

Adopsi AI: Cepat Tumbuh, Belum Mendalam

Sesi ini juga membahas kondisi adopsi AI di Indonesia. Tercatat sekitar 18 juta bisnis atau 28% pelaku usaha telah mengadopsi AI, dengan pertumbuhan adopsi mencapai 47% secara tahunan. Sebanyak 59% bisnis pengguna AI dilaporkan mengalami kenaikan pendapatan rata-rata sebesar 16%.

Meski pertumbuhannya pesat, sebagian besar bisnis masih memanfaatkan AI hanya untuk tugas-tugas dasar. Keterbatasan talenta menjadi tantangan utama, di mana lebih dari setengah organisasi mengaku kekurangan sumber daya manusia yang siap mengelola AI.

Indonesia yang memiliki lebih dari 65 juta UMKM disebut sebagai pasar AI terbesar di Asia Tenggara. Potensi ini membuka peluang besar bagi pelaku usaha yang ingin belajar lebih awal dan memanfaatkan AI sebagai keunggulan kompetitif.

AI di Dunia Kerja: Peluang Profesi Baru

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Dinda Virgia Yurendira

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X