Baca Juga: Angela Tanoesoedibjo Wamenparekraf Paparkan Arah Pengembangan Parekraf Tahun 2023 kepada DPR RI
3. Desa Tololela
Sobat Pesona ingin menikmati budaya dan alam desa yang autentik? Coba mampir ke Desa Tololela. Desa yang terletak di Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur ini bersemayam di kaki Gunung Inerie. Adat dan budaya di desa ini masih sangat kental, salah satunya terlihat dari bentuk rumah tradisional yang unik, terbuat dari kayu dengan beratapkan ilalang. Penggunaan bahan alami dan lokal untuk kehidupan sehari-hari masyarakat adalah warisan leluhur yang dijaga keberlanjutannya. Di desa ini juga terdapat bangunan historis yaitu berupa kuburan batu tua lancip yang terletak di tengah lapangan dan Ngadu Baga atau miniatur bangunan yang didedikasikan untuk menghormati Bapa (Ngadu) dan Ibu (Baga). Wah, sangat menarik ya, Sobat Pesona.
4. Desa Cancar
Mari menghirup udara segar pesawahan nan luas di Desa Cancar yang terletak di Kecamatan Ruteng Manggarai, Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Desa ini memiliki daya tarik utama yaitu area persawahan yang berbentuk jaring laba-laba dan disebut “Lodok” oleh masyarakat setempat. Profesi sebagian besar masyarakat desa adalah sebagai petani. Mereka mengelola area persawahan ini dengan sistem khusus yang disebut “Lingko” , yang mengatur pembagian dalam pengelolaan sawah yang dilakukan oleh ketua adat kepada masyarakatnya. Sistem ini juga dijaga keberlanjutannya karena membawa manfaat bagi masyarakat setempat.
5. Desa Wologai
Desa adat lain yang perlu Sobat Pesona kunjungi saat liburan di Labuan Bajo adalah Desa Wologai yang terletak di Kabupaten Ende. Desa yang berdiri di puncak bukit yang dikelilingi perbukitan hijau nan luas ini diperkirakan sudah ada sejak sekitar 800 tahun yang lalu. Desa Wologai juga memiliki rumah adat yang khas. Uniknya adalah setiap rumah dihiasi dengan ukiran yang menunjukkan kehidupan sehari-hari penduduk setempat. Desa ini juga menjalankan beberapa ritual tradisional, seperti ritual panen di bulan April “Keti Uta” dan ritual menumbuk padi di bulan September “Ta'u Nggua”. Masyarakat setempat menjaga lingkungan tetap asli yaitu dengan merawat rumah adat serta senantiasa menggunakan bahan alami dalam kehidupan sehari-hari.
Artikel Terkait
Sandiaga Uno Menparekraf Dorong Standar Kompetensi Tenaga Profesional Pariwisata Diperkuat
Sandiaga Uno Kemenparekraf Gandeng Traveloka Kembangkan Sektor Parekraf
Respon Sandiaga Uno Bali Masuk 10 Destinasi Terpopuler Dunia Versi TripAdvisor Ungguli London dan Paris
Sandiaga Uno Kemenparekraf Dukung Event Olahraga ISSF World Cup 2023 Digelar di Jakarta
Sandiaga Uno Kemenparekraf Targetkan 250 Ribu Wisman Tiongkok Datang ke Indonesia Tahun Ini
Sandiaga Uno Hadir secara Online, Kemenparekraf Akan Luncurkan Kharisma Event Nusantara 2023
Nikmati Liburan Seru dan Unik di Desa Bonjeruk, Lombok Tengah
Sandiaga Uno Dukung Kemenparekraf Gelar Pelatihan Kembangkan Desa Wisata di Kawasan DPSP Labuan Bajo
Sandiaga Uno Menparekraf Paparkan Penyerapan Pagu Anggaran Tahun 2022 di Hadapan Komisi X DPR RI
Angela Tanoesoedibjo Wamenparekraf Paparkan Arah Pengembangan Parekraf Tahun 2023 kepada DPR RI