WartaPesona.com - Kita ketahui bahwa perubahan iklim yang kini semakin sulit diprediksi. Perubahan iklim global kini tidak hanya mengancam sektor pertanian, kelautan, kesehatan, hingga infrastruktur, tetapi juga menimbulkan tekanan besar pada industri pariwisata internasional.
Suhu yang meningkat serta perubahan pola curah hujan menyebabkan gangguan terhadap arus wisata, operasional atraksi alam, serta kegiatan ekonomi di sekitar destinasi wisata.
Cuaca ekstrem seperti hujan berkepanjangan, banjir, gelombang tinggi, hingga potensi longsor kini menjadi tantangan yang serius bagi pengembangan pada destinasi wisata.
Hal ini turut berdampak kepada sektor pariwisata di Indonesia yang sebagian besar menggantungkan daya tarik wisatanya pada keindahan alam dan kekayaan budaya yang dimiliki.
Cuaca ekstrem saat ini tentunya berpotensi menghambat perjalanan wisatawan, menurunkan kualitas pengalaman berwisata, dan pada akhirnya mempengaruhi jumlah pendapatan daerah yang didapatkan maupun para pelaku usaha wisata.
Menghadapi kondisi yang terjadi, Kemenparekraf bersama kementerian/lembaga terkait yakni pemerintah daerah, dan sektor swasta terus memperkuat dengan berkoordinasi dan melakukan langkah mitigasi terhadap hal ini.
Staf Ahli Bidang Manajemen Krisis Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf), Fadjar Hutomo, dalam wawancara CNBC Indonesia menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat langkah antisipasi dan mitigasi risiko untuk menjaga keberlanjutan sektor pariwisata nasional. “Kesiapsiagaan terhadap risiko lingkungan kini menjadi salah satu pilar penting dalam pengelolaan destinasi wisata di Indonesia,” ujarnya.
Baca Juga: Cara Menjaga Kesehatan Kulit di Tengah Cuaca Panas
Dengan keberagaman destinasi wisata alam dan budaya yang dimiliki, Indonesia menjadi salah satu negara yang paling terdampak perubahan iklim yang terjadi saat ini.
Untuk menghadapi tantangan tersebut, Kemenparekraf melalui Deputi Bidang Pengembangan Destinasi dan Infrastruktur melakukan pemetaan risiko di daerah wisata.
Hasil pemetaan ini kemudian juga dituangkan dalam panduan manajemen risiko pariwisata yang berfungsi sebagai acuan pencegahan dan penanganan jika terjadi bencana di kawasan wisata.
Selain itu, Kemenparekraf juga bekerja sama dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dalam menyebarluaskan peringatan dini cuaca ekstrem kepada pemerintah daerah.
Langkah ini tentunya dilakukan untuk destinasi wisata dapat meningkatkan kewaspadaan, terutama di wilayah dengan potensi banjir dan longsor akibat meningkatnya tingginya curah hujan.
Langkah mitigasi ini juga tertuang pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), pemerintah telah menegaskan komitmen membangun pariwisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Artikel Terkait
Festival Film Wartawan 2025: ‘Tinggal Meninggal’ Jadi Bintang Utama, Christine Hakim Raih Penghargaan Seumur Hidup
Bukan Sekadar Jalan-Jalan, Ini 5 Tempat Wisata yang Bikin Kamu Makin Pintar di Jakarta.
Suasana Hari Terakhir Museum Mini KRL Jalita: Antusiasme Pecinta Kereta Memenuhi Gerbong Bersejarah