“Manajemen krisis pariwisata bukan hanya tentang keindahan tetapi juga tentang keselamatan, keamanan, dan keselamatan. Sehingga destinasi pariwisata juga harus mampu membangun persepsi ini bagi wisatawan sehingga menjadi preferensi atau pilihan bagi wisatawan untuk berkunjung ke destinasi itu,” kata Fadjar
Staf Ahli Bidang Transformasi Digital dan Inovasi Pariwisata Kementerian Pariwisata Masruroh mengatakan pariwisata berkelanjutan memberikan dampak perubahan yang luas tidak hanya lingkungan, sosial, maupun ekonomi, namun juga mempengaruhi pemanfaatan digital. Yang meliputi penggunaan platform perjalanan daring, pembayaran non-tunai, Artificial Intelligence (AI), VR/AR, dan analitik big data.
Baca Juga: Hari Pariwisata Dunia: Pariwisata dan Transformasi Berkelanjutan Kementerian Pariwisata RI
Dalam mendukung transformasi ini, Kementerian Pariwisata mengembangkan program Tourism 5.0, termasuk penguatan basis data melalui Sisparnas (Sistem Informasi Indikator Kepariwisataan Nasional) dan Jadesta (Jaringan Desa Wisata); serta melakukan pengembangan website indonesia.travel yang lebih imersif, informatif, dan ramah pengguna.
“Sustainable tourism itu bukan pilihan, tetapi sudah menjadi keharusan baik itu demand dari pasar maupun juga kebutuhan kita sendiri sebagai pemilik destinasi wisata. Dan diperlukan kerja sama semua pihak dalam mewujudkannya. Sedangkan digital adalah platform yang bisa memperkuat upaya-upaya itu, sehingga dapat lebih transparan dan memberi benefit seluas-luasnya kepada masyarakat,” kata Masruroh.
Wakil Ketua 1 Dewan Kepariwisatan Berkelanjutan Indonesia David Makes menyampaikan bahwa sebelum destinasi pariwisata menjadi berkelanjutan, tentu produk pariwisata itu harus kompetitif dan dapat survive terhadap dinamika kepariwisataan nasional maupun global.
Baca Juga: Mendaki Puncak Impian: Panduan Lengkap Traveling Naik Gunung
“Dan kita sepakat bahwa pendekatannya memang harus holistik sebagai sebuah ekosistem. Hal ini tentu memang membutuhkan kerja sama, kolaborasi baik antara instansi kementerian, lembaga, pemerintah pusat maupun daerah termasuk masyarakat, baik masyarakat adat, masyarakat pendatang yang yang bertindak selaku investor di dalam pengembangan pariwisata dalam sebuah destinasi,” tutur David.
“Untuk itu, mari kita lanjutkan semangat kolaborasi dalam seri berikutnya hingga cita-cita transformasi pariwisata berkelanjutan benar-benar dapat terwujud,” katanya.
STDev Forum Series #2 akan digelar pada 23 September 2025 dengan topik Gerakan Penguatan Sustainable & Regeneratives Practices. Sementara, Series #3 akan digelar pada 30 September 2025 dengan topik Sinergi Transformasi ESU Tourism Development Program dan Pariwisata Regeneratif.
Rangakaian STDev Forum ini diharapkan akan ada tindak lanjut nyata berupa pelaksanaan gerakan Green Action dan Regenerative Action dengan seluruh stakeholder pada September sampai dengan Desember 2025.***
Artikel Terkait
Weekend at Parapuar ke 6 : Merayakan Flores Lewat Seni, UMKM, dan Panorama Senja
Hari Pariwisata Dunia: Pariwisata dan Transformasi Berkelanjutan Kementerian Pariwisata RI
Fakta Seru Geopark Ijen Yang Harus Kamu Tahu
8 Makanan Tertua di Indonesia, Sudah Coba Belum?