WartaPesona.com - Fenomena 'Quiet Quitting' baru-baru ini menjadi topik hangat di dunia kerja. Istilah ini mengacu pada situasi di mana karyawan tidak lagi berambisi untuk melampaui ekspektasi pekerjaan, dan hanya melakukan tugas-tugas minimum yang diwajibkan.
Fenomena ini berbeda dengan pengunduran diri (resign) karena karyawan 'quiet quitting' tetap bekerja, namun tidak menunjukkan semangat atau motivasi untuk berkembang.
Penyebab Quiet Quitting:
Ada beberapa faktor yang diduga menjadi penyebab fenomena quiet quitting, antara lain:
- Ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi (work-life balance): Beban kerja berlebihan dan budaya kerja yang menuntut karyawan untuk selalu "on call" dapat menyebabkan burnout dan stres. Hal ini mendorong karyawan untuk menarik diri dari pekerjaan.
Baca Juga: 5 Keterampilan Paling Dicari di Dunia Kerja Masa Depan
- Kurangnya penghargaan dan pengakuan: Karyawan yang merasa tidak dihargai atas kontribusinya dan tidak memiliki kesempatan untuk berkembang cenderung kehilangan motivasi.
- Budaya kerja yang tidak mendukung: Budaya kerja yang toksik, seperti bullying, micromanagement, dan kurangnya komunikasi, dapat membuat karyawan merasa tidak nyaman dan tidak dihargai.
- Perbedaan ekspektasi antara karyawan dan perusahaan: Generasi Z dan milenial memiliki ekspektasi yang berbeda terhadap pekerjaan dibandingkan generasi sebelumnya. Mereka lebih memprioritaskan work-life balance dan fleksibilitas kerja.
Baca Juga: Resilience di Pasar Global: Mengatasi Tantangan dan Krisis dalam Bisnis Internasional
Dampak Quiet Quitting:
Fenomena quiet quitting dapat membawa dampak negatif bagi perusahaan, seperti:
- Penurunan produktivitas: Karyawan yang tidak termotivasi dan tidak engaged cenderung kurang produktif.
Artikel Terkait
Mendorong Pertumbuhan UKM: Peran P2P Lending & Crowdfunding
Resilience di Pasar Global: Mengatasi Tantangan dan Krisis dalam Bisnis Internasional
5 Keterampilan Paling Dicari di Dunia Kerja Masa Depan