Brain Rot sebagai Ancaman di Era Digital yang Menggerogoti Kesehatan Mental Terutama Anak Muda

photo author
Fathan Riyandi, Warta Pesona
- Selasa, 14 Januari 2025 | 14:48 WIB
Ilustrasi otak (freepik.com/kjpargeter)
Ilustrasi otak (freepik.com/kjpargeter)

WartaPesona.com - Istilah 'brain rot' baru-baru ini dinobatkan sebagai Kata Tahun Ini 2024 oleh Oxford University Press.

Hal ini mencerminkan kekhawatiran global terhadap dampak negatif konsumsi konten daring berkualitas rendah yang berlebihan atau konten receh, terutama melalui media sosial.

'Brain rot' merujuk pada penurunan kondisi mental atau intelektual seseorang akibat paparan konten yang dangkal dan tidak menantang.

Baca Juga: Ini lho pentingnya sarapan bagi anak dan orang dewasa, sumber energi otak dan mengatur berat badan

Fenomena ini menjadi sorotan setelah penggunaan istilah tersebut meningkat 230% antara tahun 2023 dan 2024.

Psikolog klinis, Dr. Narendra Kinger, menjelaskan bahwa 'brain rot' mencerminkan penurunan kemampuan mental secara perlahan.

Sering kali dikaitkan dengan penggunaan gadget yang berlebihan dan kurangnya stimulasi intelektual.

Kebiasaan ini dapat menyebabkan berkurangnya waktu rentang berpikir, kesulitan berkonsentrasi, dan penurunan kemampuan berpikir kritis.

Baca Juga: Sandiaga Uno Serahterimakan Hak Kekayaan Intelektual (HKI) WIES 2023 ke Pemprov Sumbar

Untuk mencegah dampak negatif 'brain rot', para ahli merekomendasikan pembatasan waktu layar, terutama dalam mengonsumsi konten yang tidak menantang secara intelektual.

Aktivitas seperti membaca, berolahraga, dan terlibat dalam diskusi mendalam dapat membantu menjaga kesehatan mental dan mencegah penurunan kemampuan kognitif.

Peningkatan kesadaran akan fenomena 'brain rot' diharapkan dapat mendorong individu untuk lebih selektif dalam mengonsumsi konten daring dan menjaga keseimbangan antara aktivitas digital dan kehidupan nyata.***

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Fathan Riyandi

Sumber: Oxford University

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X