WartaPesona.com - Belakangan ini, tren 'digital detox' atau menjauhi perangkat digital untuk sementara waktu semakin populer di kalangan masyarakat. Fenomena ini muncul sebagai respons atas dampak negatif penggunaan teknologi yang berlebihan.
Dilansir dari berbagai sumber, awal mula tren digital detox berasal dari gerakan anti-smartphone yang digaungkan oleh beberapa pakar teknologi di Silicon Valley, Amerika Serikat pada tahun 2010-an. Mereka memperingatkan akan bahaya kecanduan gadget yang dapat mengikis kualitas interaksi sosial dan kesehatan mental.
"Semakin banyak orang yang menyadari bahwa penggunaan teknologi yang tidak terkendali dapat membawa efek buruk. Oleh karena itu, mereka mencoba untuk meluangkan waktu 'offline' untuk diri sendiri," ujar seorang pakar psikologi digital, Andi.
Baca Juga: 22 Nama Yang Panggil Oleh Shin Tae-yong Persiapan Kualifikasi Piala Dunia Juni Nanti
Untuk menerapkan digital detox dalam kehidupan sehari-hari, Andi menyarankan beberapa hal, di antaranya:
- Menetapkan aturan penggunaan gadget, misalnya tidak menggunakannya saat makan atau sebelum tidur.
- Meluangkan waktu rutin, misalnya satu hari dalam seminggu, untuk beraktivitas tanpa membawa perangkat digital.
- Mencoba meditasi atau kegiatan relaksasi lainnya untuk mengurangi ketergantungan pada gadget.
- Mengalihkan fokus ke hobi, olahraga, atau aktivitas luar ruang yang menyenangkan.
Baca Juga: Kevin Sanjaya Sukamuljo Umumkan Akan Pensiun dari Dunia Bulu Tangkis, ini Profil Lengkap Atletnya
Dengan menerapkan digital detox secara konsisten, dipercaya dapat memberikan manfaat yang positif bagi kehidupan kita.***(ZAF)/ZAF
Artikel Terkait
Como 1907: Perjalanan Menakjubkan Menuju Serie A, Membuktikan Potensi Klub Sepak Bola Indonesia
Como 1907 Bersiap Menguatkan Tim Setelah Promosi ke Serie A: Siapa Calon Bintang yang Akan Bergabung?
Kejaksaan Agung Utamakan Pemeriksaan Terkait Pisah Harta Harvey Moeis dengan Sandra Dewi.