Sejak menikah dan menetap di Indonesia, ia jarang memiliki kesempatan pulang ke kampung halaman karena keterbatasan ekonomi dan tanggung jawab mengurus rumah tangga.
Menurut laporan Bernama, Norida mengenang awal pernikahannya pada tahun 2007. Kala itu, ia hanya memiliki satu harapan sederhana : hidup tenang sebagai istri seorang petani di Lombok.
Namun, perjalanan rumah tangga yang dijalaninya tidak berjalan sesuai harapan. Masalah demi masalah muncul hingga akhirnya pernikahan tersebut berujung pada perceraian pada tahun 2025.
Bertahan Hidup dalam Keterbatasan
Pasca perceraian, Norida kehilangan sumber penghidupan utama. Tanpa dukungan keluarga dan dengan tanggungan anak, ia harus bekerja serabutan demi bertahan hidup.
Berbagai pekerjaan ia jalani, mulai dari mencuci pakaian warga, bekerja sebagai pembantu di sebuah restoran, hingga pekerjaan informal lainnya.
Dalam pengakuannya, Norida juga sempat mendapat bantuan dari warga setempat yang iba melihat kondisinya.
“Wanita itu menawarkan saya pekerjaan membuat kue dan mengizinkan saya tinggal di rumah leluhur ibunya yang kosong secara gratis,” tutur Norida sebagaimana dikutip Bernama.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak cukup untuk menjamin masa depan yang layak bagi dirinya dan anak-anaknya.
Keterbatasan ekonomi bahkan membuat anak-anaknya harus menghentikan pendidikan formal.
Baca Juga: Belum Pulih dari Bencana 2025, Tapanuli Tengah Kembali Diterjang Banjir-Longsor
Harapan Baru, Kerinduan Lama
Kini, setelah kembali ke Malaysia, Norida mengaku bersyukur dapat kembali berkumpul dengan keluarga besarnya.
Ia berharap bisa memulai kehidupan baru yang lebih stabil dan aman, serta memperbaiki masa depan anak-anaknya.
Namun, di balik rasa syukur itu, Norida masih menyimpan kerinduan mendalam. Putra bungsunya hingga kini masih berada di Lombok.
“Anak saya ingin datang ke Malaysia tetapi terhalang oleh kendala keuangan,” ungkap Norida.
Meski demikian, ia memastikan bahwa anaknya dalam kondisi aman.
Artikel Terkait
Belum Punya Hunian Layak, Warga Desa Sekumur Aceh Tamiang Jalani Hari di Tenda Darurat
Bantah Isu Mark Up Wakaf Al-Qur’an, Taqy Malik Ungkap Bukti Video Harga Asli 80 Riyal dari Pedagang Nabawi
Belum Pulih dari Bencana 2025, Tapanuli Tengah Kembali Diterjang Banjir-Longsor
Ramadan di Pengungsian Aceh Tamiang, Harapan dan Doa Warga di Tengah Ujian Bencana