berita

Terburuk Sepanjang Sejarah Siapa Yang Salah Atas Tewasnya Ratusan Orang Di Malang ?

Selasa, 4 Oktober 2022 | 08:08 WIB
Terburuk Sepanjang Sejarah Siapa Yang Salah Atas Tewasnya Ratusan Orang Di Malang ? (Tim WartaPesona)

WartaPesona.com - Kejadian Tragis Sepakbola di Kanjuruhan Malang menewaskan ratusan Orang.

Tidak bisa dipungkiri ternyata ada pertandingan sepak bola seharga nyawa manusia.

Kejadian hal ini seharusnya tidak terjadi  pertandingan sepak bola merenggut nyawa dan menguras emosi siapa pun yang mendengar kabarnya.

Simak Informasi dalam artikel ini, berikut penjelasan:

Dikutip dari Pikiran Rakyat dalam artikel yang berjudul'Entah Siapa yang (Tak) Salah Atas Tewasnya 125 Orang di Malang'

Baca Juga: Tragedi Sepakbola BRI Liga 1 Di Malang Korban Tewas Mencapai Lebih dari 200 Orang

Penyelidikan dilakukan untuk mengungkap siapa yang salah. Hasilnya, tak ada yang salah. Kenapa? Karena tak ada satu pun jadi tersangka.

Suporter tanpa tiket yang memaksa masuk, tak salah. Petugas keamanan yang membiarkan masuknya suporter tak bertiket tak salah. Panitia pelaksana dan PSSI juga sama tidak salahnya.

Tagar #TakAdaSepakBolaSehargaNyawa” pun marak. Para pejabat negeri dan mereka yang berkepentingan, mendatangi rumah orangtua korban, Ahmad Solihin di Bandung dan Sopiana Yusuf di Bogor.

Mereka berbelasungkawa, mengirim karangan bunga, dan aksi simpatik lainnya. Saat itu, Ketua Umum PSSI M Iriawan ata Iwan Bule meminta semua pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan Piala Presiden 2022 lebih maksimal dan sigap menggelar pertandingan.
Baca Juga: Lesti Kejora Laporkan Rizky Billar Ke Polisi Atas Dugaan KDRT
Dia tak mau kejadian serupa terulang hingga mencoreng negeri. Sebulan kemudian, Liga Indonesia dimulai.

Pandemi Covid-19 yang mulai landai membolehkan suporter mendukung tim kesayangannya di stadion.

Sorak sorai bergembira para suporter membahana. Bercampur caci maki kepada tim lawan, bahkan tim idola apabila gagal memetik kemenangan. Sebuah euforia.

”Cobaan” dimulai saat Arema menjamu Persib, Minggu 11 September 2022. Secara historis, Aremania dan bobotoh, tak bermusuhan. Semua hanya karena ewuh pakewuh. The Jakmania ”berkoalisi” dengan Aremania dan bobotoh sobat bonek.

Sudah jadi rahasia umum, Persib dan Persija punya rivalitas panjang. Sama seperti Arema dan Persebaya. Pada pertandingan Arema vs Persib, ada slot untuk bobotoh yang ingin menonton di Stadion Kanjuruhan, markas Arema. Meski tidak banyak, tetapi bobotoh menyambut gembira. Beres laga yang dimenangi Persib, tetap ada sedikit gesekan. Namun, secara umum, aman terkendali.

Baca Juga: Viral! Lagu Begitu Syulit Ganti Lirik Ridwan Kamil Ngamuk, Bikin Ngakak

Semua berharap, itu menjadi momentum kedewasaan suporter. Memasuki pekan ke-11, dua big match menanti. Arema vs Persebaya, Sabtu 1 Oktober 2022 dan Persib vs Persija di GBLA, Minggu 2 Oktober 2022. Pada duel kakap itu, suporter lawan dilarang hadir untuk mencegah kerusuhan.

Akan tetapi, apa yang terjadi? Harapan Iwan Bule musnah seketika. Pun demikian mimpi suporter untuk terus mendukung tim kesayangannya di stadion, pecah berantakan. Petaka datang di Stadion Kanjuruhan.

Dipicu kekecewaan suporter atas kekalahan timnya, Arema, dari Persebaya. 125 orang tewas dan ratusan lainnya dirawat. Hampir semuanya suporter Arema. Indonesia jadi sorotan dunia dan masuk urutan kedua sebagai negara dengan jumlah korban tewas terbesar dalam satu pertandingan sepak bola.

Pertama adalah Peru (328 tewas, 24 Mei 1964, di Estadio Nacional, Lima). Ketiga adalah Ghana tahun 2011 (125 tewas).

Tiga pertandingan paling mematikan itu, kronologinya serupa. Diawali aksi suporter yang tak terbendung sehingga petugas keamanan menembakkan gas air mata.

Muncul kepanikan massal dan berebut keluar stadion. Mereka meninggal akibat sesak nafas, terinjak-injak, terbentur, hingga tergencet.

Ancaman FIFA menanti. Mulai dari pembekuan pertandingan Liga Indonesia, kompetisi tanpa penonton, keanggotaan Indonesia di FIFA dicabut, dan lainnya.

Lalu, siapa yang salah? Polisi yang menembakkan gas air mata karena tak bisa membendung lagi kerusuhan? Panitia yang tak mau memajukan jam pertandingan menjadi sore serta overcapacity? Suporter yang kecewa timnya kalah? PSSI sebagai regulator dan mediator? Atau, malah tak ada yang salah.

Yang pasti benar, orangtua para korban tewas tak bisa lagi memeluk anaknya. Tragedi Kanjuruhan tak cukup ditutup dengan #TakAdaSepakBolaSehargaNyawa. Harus ada yang divonis bersalah!

Kalau satu polisi tewas ditembak bisa menyita perhatian sedemikian besar selama berbulan-bulan, 125 nyawa manusia seharusnya bisa menimbulkan dampak jauh lebih besar dari itu.***
(Tajuk Rencana/Pikiran-rakyat.com) (AA)

Tags

Terkini

Dadan Hindayana Cs Dijebloskan ke Tahanan

Rabu, 3 Juni 2026 | 18:45 WIB