Baca Juga: Menparekraf Dorong Finalis AKI Kota Batam Mengekspansi Pasar dengan Gairahkan Ekonomi Lokal
Pelestarian tradisi "Tepung Tawar" adalah bagian dari usaha membangun Indonesia sebagai destinasi wisata budaya yang unik dan memikat hati setiap pengunjung.
Tradisi Tepuk Tepung Mawar adalah salah satu upacara adat khas Melayu Riau yang telah diturunkan dari zaman raja-raja terdahulu.
Tradisi ini merupakan bentuk rasa syukur atas terkabulnya satu keinginan atau usaha, dan dilakukan dengan penaburan "tepung tawar" sambil mengucapkan doa-doa serta lantunan ayat-ayat suci Alquran.
Baca Juga: Keunikan Tanjak Melayu: Menparekraf Memesan Topi Khas Saat Hadiri Bajafash Batam
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf/Kabaparekraf) Sandiaga Salahuddin Uno menekankan bahwa tradisi prosesi 'tepung tawar' ini harus dilestarikan karena mengandung makna mendoakan keselamatan bagi orang yang melaksanakannya.
Tradisi ini bukan hanya merupakan warisan budaya yang berharga, tetapi juga memiliki nilai edukasi yang tinggi.
Sekretaris Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau dan Ketua Dewan Masjid Penyengat, Raja Al Hafiz, menjelaskan bahwa ada beberapa bahan yang digunakan dalam prosesi 'tepung tawar' ini.
Baca Juga: Kelebihan mobil hybrid HEV dan PHEV, berkendara tanpa cemas kehabisan baterai
Bahan-bahan tersebut meliputi beras kunyit, beras putih, beras bertih, dan air tepung tawar. Selain itu, terdapat juga daun gandarusa, daun cuang-cuang, serta daun ribu-ribu.
Beras kunyit melambangkan harapan akan kemurahan rezeki, beras putih melambangkan kesucian, sementara air tepung tawar melambangkan penyejuk hati. Selain memberikan makna, bahan-bahan tersebut juga merupakan simbol dari doa-doa yang disampaikan selama upacara 'tepung tawar'.
Upacara Tepuk Tepung Mawar turut dihadiri oleh Menteri Sandiaga, serta beberapa pejabat dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif. Hal ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam mendukung dan melestarikan budaya-budaya tradisional Indonesia.
Baca Juga: Menikmati Kelezatan Sate Lilit Bali: Goyang Lidah dengan Kuliner Tradisional yang Menggoda!
Pentingnya pelestarian tradisi Tepuk Tepung Mawar ini juga mencerminkan pentingnya pelestarian budaya dalam sektor pariwisata dan ekonomi kreatif.