Ketiga pola hujan tersebut hanya terjadi satu kali maksimum curah hujan bulanan dalam waktu 1 tahun.
Hal tersebut berkebalikan dengan pola hujan monsunal, sehingga pada bulan Juni-Juli seperti sekarang, pola hujan tipe monsunal berada pada periode musim kemarau.
Sedangkan pada tipe ekuatorial dan lokal, pada bulan Juni ini dapat dikatakan berada pada periode musim hujan.
Baca Juga: Enam langkah efektif meningkatkan ekonomi daerah dari sektor pariwisata
"Meskipun wilayah dengan pola hujan tipe monsunal saat ini berada pada periode musim kemarau, namun bukan berarti tidak ada potensi hujan," kata Kania, dinukil dari kanal YouTube BMKG.
Dia menjelaskan, bahwa musim kemarau tidak berarti tidak ada hujan sama sekali. Hal ini karena musim kemarau dipahami sebagai kondisi ketika curah hujan pada suatu periode lebih rendah dari periode lainnya.
Kania mencontohkan, pola hujan tipe monsunal pada periode Juni-Juli-Agustus, memiliki curah hujan yang lebih rendah dari periode lainnya.
Selama musim kemarau, curah hujan cenderung berkurang dan terjadi periode yang lebih panjang hari tanpa hujan yang signifikan.
Meskipun ada periode kering yang lebih lama, tetap ada potensi hujan selama musim kemarau, meskipun curah hujan biasanya lebih ringan dibanding pada musim penghujan.
Kania juga mengatakan, bahwa faktor-faktor seperti pengaruh angin muson, pola sirkulasi atmosfer dan variabilitas iklim regional, dapat mempengaruhi pola hujan selama musim kemarau.
Terkait masih seringnya turun hujan di musim kemarau dalam beberapa hari ini, Kania menjelaskannya demikian.
Cuaca dan iklim di wilayah Indonesia dipicu oleh berbagai faktor dinamika atmosfer, mulai dari skala global hingga regional dan lokal.
Hasil analisis BMKG, menunjukkan hingga awal Juli ini beberapa faktor dinamika atmosfer skala regional hingga lokal berperan cukup signifikan dalam meningkatkan pertumbuhan awan hujan.
Baca Juga: Pecahkan rekor Asia, Sprinter Indonesia Saptoyoga Purnomo akan melenggang ke Paralimpiade Paris 2024