Di lembah gersang itu sama sekali tidak ada sumber air, tumbuh-tumbuhan, dan tidak ada tempat untuk bernaung, dan tidak berpenghuni.
Nabi Ibrahim merasa sedih meninggalkan istri dan putra tunggalnya itu di daerah yang amat gersang.
Baca Juga: Survei terbaru: Elektabilitas Cawapres Sandiaga Uno menguat, bersaing ketat dengan Erick Thohir
Nabi Ibarahim kemudian mengadu kepada Allah Tuhan Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, yang senantiasa melimpahkan rahmat-Nya.
Nabi Ibrahim, berkata:
“Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah-Mu (Baitullah) yang dihormati.
Wahai Tuhan kami (yang demikian itu), agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, semoga mereka bersyukur.” (QS Ibrahim [14]:37).
Baca Juga: Jemaah Haji Indonesia melakukan wukuf di Padang Arafah, 359 jemaah dibadalhajikan
Tidak berapa lama setelah Nabi Ibrahim meninggalkan istrinya Hajar dan anak tunggalnya Ismail, persediaan air yang mereka bawa, habis.
Namun, Hajar masih dapat membahagiakan anaknya yang masih bayi itu dengan air susunya yang murni.
Tetapi karena ia sendiri tidak minum, lama-kelamaan air susunya tidak keluar lagi.
Ia pun menatap anak bayinya yang berkedip berkali-kali, mengatupkan matanya hampir mati kehausan.
Sebagai seorang ibu, ia merasakan kesedihan yang luar biasa, hatinya merasa tersayat-sayat sembilu.
Ia tidak tahan dan tidak kuat melihat anak bayinya yang masih suci itu mengalami kehausan yang amat sangat.
Ia pun kemudian berikhtiar mencari air, berlari antara bukit Shafa dan Marfah sampai tujuh kali. Usahanya itu tidak berhasil menemukan air.
Namun, ketika kembali kepada anaknya, ia mendapati air bening mengalir dekat kaki anaknya.