WartaPesona.com - Bandung, 17-18 Maret 2023, upaya menggerakkan sektor pariwisata di daerah masih terganjal banyak hal. Minimnya anggaran dan miskin SDM selalu saja jadi alasan klise.
Kali ini ada “ilmu” baru dari Dwi Marhen Yono. Dia adalah Direktur Pemasaran Pariwisata Nusantara Kemenparekraf RI.
Sebelumnya Dwi Marhen mengabdi 20 tahun di Banyuwangi mulai Kepala Desa, Lurah, Sekcam, Kepala Bidang Pemuda, Kepala Bidang Olahraga, Kepala Bidang Pemasaran Pariwisata, Kepala Bidang Pariwisata dan Kepala Bidang Kesra/ Sosbud Bappeda serta Direktur Banyuwangi Festival. pada Pemerintah Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur, kemudian menjadi Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Pariaman Sumbar selama 2,5 tahun.
“Pak Dede, dulu kami punya prinsip makannya 3A, sementara minumnya 3K untuk memajukan pariwisata di daerah," ujar Dwi Marhen saat bimtek pemasaran pariwisata nusantara dan ekonomi kreatif melalui Smartphonegraphy di Mountain Breeze Banjaran, Kabupaten Bandung.
Tiga A yang dimaksud Dwi Marhen adalah akses, amenitas, dan atraksi. Pola itu berhasil diterapkan Banyuwangi saat bupatinya dijabat Abdullah Azwar Anas.
Akses terkait sarana jalan, bandara, pelabuhan, dan transportasi menuju destinasi wisata. Sementara amenitas terkait ketersediaan akomodasi baik hotel, restoran, cafe, toko cinderamata, dan fasilitas umum seperti kesehatan, toilet, dan tempat ibadah.
"A ketiga, atraksi yang biasanya kurang di daerah. Dulu di Banyuwangi saya bikin one cabor one event, one company one event, dan one dinas one event,” jelasnya.
Semua kegiatan sebagai atraksi budaya jadi paket wisata dengan begitu, sepanjang tahun penuh dengan kalender paket wisata.
“Banyuwangi didatangi wisatawan sepanjang tahun baik nusantara maupun asing,” tandasnya.
Baca Juga: H. Dadi Suryadi, M.PdI : Mengapa Niat Puasa Ramadhan Adalah Unsur Utama Dalam Ibadah?
Hal lucu sempat terjadi ketika Dinas Satpol PP dan Dinas Perpustakaan kesulitan bikin event yang jadi kalender wisata.
“Setelah saya buka DPA dinas tersebut, akhirnya bisa bikin Festival Pekan Olahraga Sat Pol PP yang pesertanya datang dari Satpol PP seluruh Indonesia. Begitu juga bedah buku oleh Najwa Syihab yg dihadiri oleh ribuan dinas perpustakaan se Indonesia,” tambahnya.
Wakil Ketua Komisi X DPR Dede Yusuf Macan Effendi melihat yang kurang dilakukan daerah umumnya kreativitas bikin atraksi.
Oleh karena itu, Dede sangat support bila Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat bisa meniru 3A ala Dwi Marhen.
Dede tak malu ingin belajar 3K yang disampaikan Direktur Kemenparekraf jebolan STPDN 97 tersebut.
Baca Juga: Mengenal Lebih Dekat Hari Raya Nyepi di Bali : Keheningan dan Spiritualitas
“Saya senang dengan K ketiga, yaitu kere-aktif,” papar Dede.
Keterbatasan anggaran mestinya jangan jadi alasan.
Dwi Marhen 3K yang jadi pedoman memajukan pariwisata adalah Komitmen (terutama dari CEO), Kreativitas dan Inovasi, serta Kere-Aktif.
“Bupati atau walikota sejatinya CEO. Kami ASN adalah KORPRI atau korban perintah. Begitu CEO berkomitmen dan memutuskan, segalanya pasti jalan,” ungkap Dwi Marhen.
Yang tak kalah penting, lanjutnya, adalah Kere-Aktif. Tanpa sarana dan prasarana memadai, apalagi anggaran yang besar, mestinya setiap dinas bisa tetap aktif bikin kegiatan-kegiatan paket wisata.
“Kita menyebutnya Kere-Aktif, walaupun kere alias tidak punya fasilitas dan anggaran, tetap saja harus aktif,” jelas Dwi Marhen.
Dede Yusuf bersemangat dengan jiwa Kere-Aktif. Hal itulah yang kurang dimiliki ASN kita. Termasuk stakeholders di dunia pariwisata dan ekonomi kreatif.
“Sejatinya saya bisa seperti sekarang karena modal Kere-Aktif itu. Tidak mudah untuk menggapai tangga, pasti kita lewati dengan cucuran keringat,” jelas wakil rakyat dari dapil Kabupaten Bandung dan Kabupaten Bandung Barat ini.
Dede bisa memahami filosofi Kere-Aktif karena lima tahun pernah jadi Wakil Gubernur Jawa Barat.
Dia juga 10 tahun menjabat ketua Kwarda Pramuka Jabar.
“Tanpa anggaran dan fasilitas bisa kita bikin kegiatan-kegiatan monumental dengan ribuan peserta. Bisa raih rekor Muri segala,” tambahnya.