Ia menjelaskan bahwa wilayah tersebut tidak memiliki batu gamping (limestone) yang biasanya menjadi faktor utama terbentuknya sinkhole.
Sebaliknya, struktur tanah yang rapuh membuat area tersebut sangat rentan terhadap erosi dan longsor, terutama saat curah hujan tinggi.
Faktor Gempa dan Irigasi Perparah Kondisi
Selain faktor geologi, Adrin juga menyoroti peran gempa bumi dalam mempercepat pembesaran lubang raksasa tersebut.
Gempa berkekuatan 6,2 magnitudo yang mengguncang Aceh Tengah pada tahun 2013 diduga turut melemahkan struktur lereng dan meningkatkan ketidakstabilan tanah.
“Getaran gempa bisa memicu retakan dan mempercepat proses longsoran, meski dampaknya tidak selalu langsung terlihat,” jelasnya.
Di sisi lain, keberadaan saluran irigasi di sekitar area persawahan juga disebut berkontribusi terhadap rapuhnya kondisi tanah.
Air yang terus meresap ke dalam lapisan tanah membuat daya ikat tanah semakin berkurang, sehingga lebih mudah runtuh.
Baca Juga: Pilu Ramadan 2026 : Korban Banjir Bandang di Aceh Sambut Puasa Tanpa Rumah
Warga Diminta Tetap Waspada
Pemerintah daerah bersama pihak terkait mengimbau warga untuk tetap waspada dan mematuhi rambu-rambu penutupan jalan demi keselamatan bersama.
Pemantauan terhadap perkembangan lubang raksasa juga terus dilakukan guna mengantisipasi dampak lanjutan.
Fenomena ini menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana berbasis kajian geologi, terutama di wilayah yang memiliki riwayat longsor dan kerentanan tanah tinggi.
Tanpa penanganan jangka panjang, ancaman terhadap keselamatan warga dan infrastruktur dikhawatirkan akan terus berlanjut. *****