WartaPesona.com - Harga timah dunia melonjak tajam pada awal 2026 dan menembus level tertinggi dalam beberapa tahun terakhir.
Pada perdagangan 22–23 Februari 2026, harga timah di London Metal Exchange (LME) tercatat berada di kisaran USD 51.325 hingga USD 56.816 per ton.
Lonjakan ini menjadi sorotan pelaku pasar global, mengingat posisi Indonesia sebagai salah satu produsen timah terbesar di dunia.
Pengamat menilai kenaikan harga tersebut tidak terlepas dari kebijakan tegas Presiden Prabowo Subianto dalam menertibkan pertambangan tanpa izin (PETI) atau tambang ilegal di Tanah Air.
Langkah tersebut dinilai berdampak langsung pada pasokan timah global, sehingga mendorong penguatan harga.
Direktur Eksekutif Indonesia Mining and Energy Watch (IMEW), Ferdy Hasiman, mengatakan bahwa penertiban
tambang ilegal membuat suplai timah dari Indonesia menjadi lebih terkontrol karena hanya dapat keluar melalui jalur resmi.
“Indonesia kan produsen nomor dua terbesar di dunia untuk timah. Ketika tambang-tambang ilegal itu ditertibkan,
pasokan ke pasar otomatis turun, dan dengan begitu harga akan naik. Baru sekarang ini ada ketegasan untuk benar-benar mengaturnya,” ujar Ferdy.
Baca Juga: Ekonom Prediksi Ekonomi RI Tetap Stabil di Tengah Tekanan Rupiah
Indonesia Dinilai Bisa Mengatur Pasar Timah Dunia
Ferdy menilai, dengan posisi Indonesia sebagai produsen timah terbesar kedua dunia, seharusnya Indonesia memiliki daya tawar besar untuk memengaruhi harga timah di pasar internasional.
Namun selama bertahun-tahun, potensi tersebut tidak dimanfaatkan secara optimal akibat maraknya aktivitas penambangan liar.
“Sebenarnya Indonesia bisa mempengaruhi pasar. Tapi selama ini banyak orang yang menjual timah diam-diam ke pasar internasional.
Akibatnya pasokan terlalu banyak dan harga global jadi rendah,” jelasnya.