“Ini bukan sekadar injeksi dana jangka pendek, melainkan sinyal pembentukan ekosistem investasi yang berkesinambungan,” kata Shan.
Baca Juga: Isu Prabowo Abaikan Keamanan Palestina Terbantahkan, Begini Faktanya
Pipeline Proyek yang Jelas dan Berorientasi Masa Depan
Pada aspek pipeline, Shan Saeed menilai kebijakan investasi Indonesia kini difokuskan pada sektor-sektor yang memiliki keunggulan struktural dan permintaan jangka panjang.
Beberapa sektor prioritas tersebut meliputi energi terbarukan, infrastruktur digital, layanan kesehatan, serta ketahanan pangan.
Menurutnya, sektor-sektor tersebut memiliki daya tahan yang relatif kuat terhadap volatilitas siklus ekonomi global dan cocok bagi investor dengan horizon investasi jangka panjang.
“Sektor ini relatif lebih tahan terhadap volatilitas siklus dan cocok bagi modal yang berjangka panjang dan sabar,” ujarnya.
Pendekatan ini dinilai mencerminkan pergeseran strategi Indonesia dari sekadar menarik investasi berbasis komoditas menuju penguatan sektor bernilai tambah dan berorientasi keberlanjutan.
Baca Juga: Kemenkeu Tegaskan Kabar Rp200 Triliun di Bank Himbara Menguap adalah Hoaks
Kredibilitas dan Disiplin Kebijakan
Dari sisi kredibilitas, Indonesia disebut menunjukkan komitmen kuat melalui berbagai langkah pendanaan berbasis pasar.
Hal ini tercermin dari penerbitan lanjutan obligasi Patriot, konsistensi peringkat kredit di level BBB, serta kemitraan investasi strategis dengan nilai mencapai sekitar USD 45 miliar.
“Langkah-langkah ini menunjukkan komitmen Indonesia terhadap transparansi peringkat, disiplin neraca, dan kredibilitas institusional,” jelas Shan Saeed.
Ia menilai bahwa konsistensi kebijakan fiskal dan keberlanjutan pembiayaan menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan investor global, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi dunia.
Stabilitas Makro sebagai Fondasi Pertumbuhan
Dalam konteks makroekonomi, Presiden Prabowo menempatkan stabilitas sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional.
Target pertumbuhan ekonomi sebesar 5 hingga 6 persen pada 2026 dinilai realistis dan sejalan dengan proyeksi lembaga-lembaga multilateral.
Shan Saeed menegaskan bahwa Indonesia kini tidak lagi dipandang sebagai pasar berkembang yang bersifat oportunistik semata,