WartaPesona.com – Arie Kriting menekankan bahwa para komika sejatinya menyadari sensitivitas isu agama, terlebih Indonesia merupakan negara yang masyarakatnya sangat religius.
“Agama itu menjadi salah satu bagian penting dari kehidupan bermasyarakat. Itu harus kita pahami juga,” kata Arie Kriting.
Ia mengakui bahwa dalam diskusi maupun berbagi pandangan dengan sesama komika, selalu ada kesadaran untuk tidak bermain-main secara sembarangan di ranah agama.
“Kita juga nggak bisa seenaknya tuh untuk bermain-main di ranah tersebut. Sangat besar untuk kesadaran itu,” imbuhnya.
Enggan Angkat Ritual Keagamaan
Lebih lanjut, Arie menjelaskan bahwa mayoritas komika cenderung menghindari materi komedi yang bersinggungan langsung dengan ritual atau tata cara ibadah.
Menurutnya, ritual keagamaan bersifat sakral dan mutlak sehingga bukan ranah yang layak dijadikan bahan candaan.
“Ritual ini kan sesuatu yang sifatnya mutlak. Kalau dalam Islam mungkin syariat, kemudian kalau Kristen ada tata cara ibadah, Hindu dan Buddha juga demikian,” jelas Arie.
“Nah, itu kita pasti akan sedikit enggan berkomedi di ranah itu. Bahkan meskipun itu agama kita sendiri. Misalnya saya Islam, kemudian berkomedi tentang Islam,” lanjutnya.
Namun, Arie membedakan antara ritual keagamaan dengan kebiasaan sosial yang berkembang di masyarakat.
Menurutnya, komedi masih dimungkinkan jika yang diangkat adalah kebiasaan, bukan ajaran atau tata cara ibadah.
Ia mencontohkan kebiasaan sebagian masyarakat yang membawa alas koran saat salat Id di lapangan.
“Misalnya kebiasaan salat Id bawa alas koran. Itu tidak pernah dianjurkan dalam agama dan tidak ada di hadits. Itu kebiasaan masyarakat saja,” ungkap Arie.
Ia bahkan mengaku memiliki materi komedi yang mengkritik kebiasaan tersebut dengan cara bercanda.