Yang dibutuhkan hanyalah ruang, edukasi, dan keteladanan untuk terus menumbuhkannya.
“Kesadaran ekologis ada dalam jiwa generasi kita, saatnya bikin perubahan,” imbuhnya.
Edukasi Bencana Lewat Dongeng dan Bahasa Anak
Dalam unggahan tersebut, Virdian turut membagikan cuplikan video saat dirinya memberikan edukasi kebencanaan kepada anak-anak Aceh.
Alih-alih menggunakan istilah teknis, ia memilih metode bercerita melalui dongeng dan bahasa anak-anak.
“Cerita tentang bencana ekologis ke siswa-siswi Aceh, pakai dongeng dan bahasa bayi,” tulis Virdian dalam keterangan unggahan.
Tampak dalam video, anak-anak berkumpul di dalam sebuah tenda pengungsian. Salah satu anak perempuan dengan polos namun lugas mengungkapkan pandangannya mengenai penyebab longsor.
“Karena semua bencana ini ulah manusia juga, manusia menebang pohon, jadi itulah yang akhirnya terjadi longsor,” tutur anak tersebut.
Ia melanjutkan, longsor yang terjadi kemudian merusak rumah-rumah warga dan memaksa mereka untuk membangun ulang.
“Kalau pohon ditebang, tidak ada yang menahan air,” tambahnya.
Pernyataan sederhana itu dinilai Virdian sebagai gambaran kuat bahwa anak-anak mampu memahami keterkaitan antara kerusakan lingkungan dan dampaknya terhadap kehidupan manusia.
Baca Juga: Rumah Hancur Diterjang Banjir, Anak-Anak Pedalaman Aceh Utara Tetap Ceria Saat Dapat Kasur Bantuan
Dukungan Warganet dan Harapan Pemulihan
Unggahan Virdian tersebut mendapat respons positif dari warganet. Hingga Senin, 12 Januari 2026 pukul 18.00 WIB, postingan itu telah disukai oleh lebih dari 2,3 ribu pengguna Instagram.