“Pengetahuan memperoleh makna tertingginya ketika ia mampu menjawab persoalan sosial, memperbaiki kualitas hidup, dan membuka jalan bagi keadilan,” terangnya.
Di tengah masyarakat yang majemuk dan masih diwarnai ketimpangan, Ferry menilai peran kelompok terdidik menjadi sangat strategis.
Mereka diharapkan mampu menjadi jembatan pemahaman, bukan justru menciptakan sekat baru.
“Pendidikan seharusnya tidak menciptakan jarak, melainkan menjembatani perbedaan,” ungkap Ferry.
“Mereka yang memiliki keistimewaan akses terhadap ilmu dituntut untuk berbagi, menerjemahkan, dan mempermudah, agar pengetahuan dapat menjadi milik bersama, bukan alat eksklusivitas,” sambungnya.
Baca Juga: Nadiem Makarim Tegaskan Tak Terima Aliran Dana Rp809 Miliar dalam Perkara Chromebook
Pendidikan dan Berpikir Kritis
Lebih lanjut, Ferry juga menyoroti hubungan erat antara pendidikan dan kemampuan berpikir kritis.
Menurutnya, masyarakat terdidik memiliki peran penting dalam menjaga kualitas ruang publik, terutama di tengah derasnya arus informasi dan disinformasi.
“Dengan kemampuan berpikir kritis yang dimilikinya, mereka diharapkan mampu meluruskan disinformasi, menenangkan perbedaan,” jelas Ferry.
“Serta mendorong dialog yang rasional, beradab, dan berlandaskan fakta,” imbuhnya.
Dalam kondisi sosial yang kompleks dan kerap terpolarisasi, Ferry menilai suara kelompok terdidik seharusnya menjadi sumber kejernihan, bukan justru memperkeruh keadaan.
Baca Juga: Kecelakaan di Gambir Bikin Fiersa Besari Emosi, Penabrak Istri Tawarkan Rp200 Ribu
Integritas sebagai Pilar Pendidikan
Tak berhenti di situ, Ferry menegaskan bahwa pendidikan sejati harus berjalan beriringan dengan integritas.
Menurutnya, kecakapan intelektual tanpa kejujuran dan keberpihakan pada kepentingan publik justru berpotensi melahirkan masalah baru.
“Pada akhirnya, pendidikan harus selalu berjalan seiring dengan integritas,” ungkap Ferry.