berita

Banjir Rusak Rumah Warga Desa Sekumur, Terpaksa Bertahan di Bawah Terpal

Senin, 22 Desember 2025 | 10:40 WIB
Warga Desa Sekumur, Aceh Tamiang yang kekurangan tenda layak untuk tempat tinggal pascabanjir - WartaPesona.com (Jurnal Batam)

WartaPesona.com – Desa Sekumur Masih Terisolasi, menjadi salah satu desa di Aceh Tamiang yang hingga kini masih mengalami kesulitan akses.

Kondisi tersebut terungkap dalam unggahan video Marlina Usman, istri Gubernur Aceh Muzakir Manaf atau yang akrab disapa Mualem, yang meninjau langsung lokasi terdampak.

Dalam video yang diunggah melalui akun Instagram @marlinaausman pada Minggu, 21 Desember 2025, Marlina menggambarkan kondisi desa yang porak-poranda akibat terjangan banjir bandang dan longsor.

“Semuanya hancur luluh lantak, tak tersisa apa pun yang bisa mereka gunakan untuk membangun lagi rumah mereka,” tulis Marlina dalam keterangan unggahannya.

Baca Juga: Bencana Agam Sumbar Terkini : 192 Orang Meninggal, 72 Masih Hilang

Akses Terputus, Warga Hanya Bisa Lewat Sungai

Jembatan yang selama ini menjadi satu-satunya akses penghubung menuju Desa Sekumur dilaporkan hanyut terbawa arus banjir.

Akibatnya, desa tersebut kini terisolasi total dari jalur darat.

Warga maupun relawan yang hendak menuju Desa Sekumur harus menyeberangi sungai menggunakan perahu milik nelayan setempat.

Perjalanan menuju desa tersebut pun memakan waktu cukup lama dan penuh tantangan.

“Akses menuju Kampung Sekumur ini harus menggunakan perahu karena jembatan yang biasa mereka gunakan sudah terbawa arus. Dari Kota Tamiang, kami menempuh perjalanan sekitar dua jam untuk tiba di sini,” lanjut Marlina.

Baca Juga: Demi Bantuan Logistik, Warga Tapteng Harus Lewati Medan Hutan Licin dan Terjal

Kehilangan Rumah, Warga Butuh Tenda Layak

Nestapa warga Desa Sekumur tidak berhenti pada akses yang terputus. Hampir seluruh rumah warga dilaporkan rusak berat hingga hanyut akibat banjir dan longsor, sehingga ratusan keluarga terpaksa mengungsi.

Warga kini bertahan di posko pengungsian darurat yang dibangun secara swadaya. Tenda-tenda sederhana dari terpal menjadi satu-satunya tempat berlindung, meski kondisinya jauh dari layak.

“Dari sungai, jarak tenda yang didirikan oleh swadaya masyarakat sekitar 800 meter dengan jalan yang masih berlumpur. Kini mereka sangat membutuhkan tenda yang layak, penampungan dan penyaringan air bersih, genset dan lampu penerangan, serta perlengkapan sarana ibadah,” jelas Marlina.

Halaman:

Tags

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB