“Bangsa kita sekarang sudah memiliki kemampuan sendiri, baik dari sisi peralatan, logistik, obat-obatan, hingga tenaga medis,” jelasnya.
Sejumlah perguruan tinggi, lembaga profesional, hingga organisasi kebencanaan nasional disebut turut memperkuat kapasitas penanganan di lapangan.
Distribusi bantuan dan mobilisasi personel pun dinilai berjalan baik berkat dukungan armada darat, laut, dan udara yang semakin memadai.
Situasi ini, kata Sjafrie, menjadi bukti bahwa Indonesia kini sudah memasuki fase kemandirian dalam penanggulangan bencana.
Baca Juga: Bupati Aceh Selatan Dikecam Warga karena Tinggalkan Daerah saat Banjir Masih Melanda
Konteks Perbandingan dengan Tsunami Aceh 2004
Sjafrie juga menyinggung bahwa kondisi penanganan bencana kali ini jauh berbeda dengan tragedi tsunami Aceh 2004.
Saat itu Indonesia masih sangat tergantung pada bantuan internasional, mulai dari logistik, alat berat, hingga tenaga medis dan relawan asing.
Namun kini, menurutnya, Indonesia jauh lebih siap menghadapi bencana besar tanpa ketergantungan eksternal.
“Dulu kita belum mandiri. Sekarang bencana di Sumatera bisa kita tangani sendiri,” ucapnya.
Presiden Prabowo Subianto, kata Sjafrie, telah mengevaluasi seluruh perkembangan di lapangan dan memandang bahwa bencana banjir ini masih dalam batas yang bisa ditangani oleh negara secara mandiri.
Gubernur Mualem : Aceh Tidak Melarang Bantuan dari Siapa Pun
Di sisi lain, Gubernur Aceh Muzakir Manaf memiliki pandangan yang sedikit berbeda dalam konteks penerimaan bantuan.
Mualem menegaskan bahwa Aceh tidak menolak bantuan dari negara lain, baik berupa obat-obatan, tenaga medis, hingga keahlian pencarian korban.