WartaPesona.com – Rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda Sumatera Utara, Aceh, dan Sumatera Barat sejak akhir November 2025 memunculkan gelombang keprihatinan baru.
Dua kabupaten di Sumatera Utara kini resmi menyatakan ketidaksanggupan menangani dampak bencana yang begitu besar, yang melumpuhkan ribuan rumah, memutus akses jalan, hingga memaksa ribuan warga mengungsi.
Situasi ini sekaligus membuka perbincangan publik mengenai urgensi penetapan status Darurat Bencana Nasional, terutama setelah berbagai daerah mengirimkan sinyal bahwa kemampuan penanganan di tingkat lokal sudah melewati batas.
Baca Juga: Mendagri Beberkan Alasan Penjarahan Terjadi : Bantuan Terhambat, Warga Terisolasi Berhari-Hari
Pidie Jaya Menyerah : Kerusakan Terlalu Parah, Sarana Tak Memadai
Kabupaten Pidie Jaya menjadi daerah pertama yang mengibarkan “bendera putih”. Melalui Surat Pernyataan Ketidaksanggupan Penanganan Bencana Nomor 300.2/402.3 pada 25 November 2025, Bupati Sibral Malasyi menyampaikan bahwa skala kerusakan akibat banjir dan longsor di wilayahnya jauh melampaui kapasitas pemerintah kabupaten.
Dalam surat resmi itu dijelaskan bahwa bencana memakan korban jiwa, merusak kawasan permukiman, memutus infrastruktur vital, dan melumpuhkan pelayanan publik.
“Pemerintah Kabupaten Pidie Jaya tidak dapat menangani penanggulangan bencana tersebut sepenuhnya mengingat keterbatasan anggaran, sumber daya serta peralatan yang dimiliki,” tulis Sibral kepada Gubernur Aceh.
Dengan kondisi demikian, Pemkab Pidie Jaya meminta pemerintah provinsi turun tangan secara langsung, terutama dalam percepatan evakuasi dan pendistribusian logistik.
Baca Juga: Bencana Massif di Sumatera : Korban Terus Bertambah, Tim Penyelamat Bekerja Tanpa Henti
Aceh Tengah Menyusul : Ribuan Mengungsi, Bupati Nyatakan Tak Mampu
Hanya dua hari berselang, Kabupaten Aceh Tengah mengikuti langkah serupa. Melalui Surat Pernyataan Ketidakmampuan Upaya Penanganan Darurat Bencana Nomor 360/3654BPBD/2025 pada 27 November 2025, Bupati Haili Yoga merinci situasi kritis yang tengah mereka hadapi.
Korban jiwa tercatat 15 orang. Sementara itu, 3.123 kepala keluarga harus mengungsi akibat banjir luapan, banjir bandang, dan longsor yang terus terjadi beruntun. Kerusakan ini meningkat dari hari ke hari karena cuaca ekstrem belum juga mereda.
Dalam poin kedua surat, Bupati Haili menyampaikan :