Jadi, selain menyuplai makanan bergizi, dapur ini juga menjadi penggerak ekonomi warga. Manfaatnya akan dirasakan langsung oleh masyarakat,” jelas Menag Nasaruddin.
Apresiasi terhadap Pemerintah Pusat dan BGN
Dalam sambutannya, Menag juga mengucapkan terima kasih kepada Presiden Republik Indonesia dan Badan Gizi Nasional atas dukungan terhadap program Dapur MBG ini. Ia menilai penunjukan Kabupaten Bone sebagai lokasi pertama merupakan bentuk nyata kehadiran negara di tengah rakyat.
“Atas nama warga Desa Ujung dan sekitarnya, kami mengucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden dan BGN.
Kami merasa sangat bangga dan gembira karena Bone dipilih menjadi tempat penyelenggaraan program ini,” ucapnya penuh haru.
Komitmen Jadi Percontohan Nasional
Lebih lanjut, Kementerian Agama berkomitmen untuk menjadikan Dapur MBG ini sebagai rumah gizi percontohan nasional, yang memenuhi bahkan melampaui standar dari BGN.
Fasilitas dapur akan terus disempurnakan, sejalan dengan visi Pondok Pesantren Al-Ikhlas sebagai pesantren berkelas internasional.
“Kami akan menjadikan dapur ini sebagai salah satu rumah gizi terbaik. Kami akan terus melengkapi fasilitas yang ada agar kualitasnya melampaui standar yang ditetapkan BGN,” tegas Menag.
Gizi Seimbang dengan Kearifan Lokal
Deputi BGN, Nyoto Suwignyo, menambahkan bahwa dapur akan menerapkan prinsip gizi seimbang dengan mengedepankan keberagaman menu berbasis kearifan lokal.
Menu makanan akan disesuaikan dengan bahan pangan khas daerah agar terasa dekat dan akrab bagi santri.
“Asupan bergizi artinya makanan yang seimbang antara protein, karbohidrat, sayuran, dan buah. Menu akan disesuaikan dengan bahan pangan lokal agar masyarakat merasa dekat dan akrab dengan makanan yang disajikan,” ujarnya.
Ia juga menegaskan pentingnya aspek keamanan pangan, mengingat makanan yang aman adalah hak dasar setiap warga, terlebih bagi anak-anak usia belajar.
“Makanan yang tidak aman tidak layak disebut makanan karena dapat membahayakan kesehatan. Karena itu, pengawasan dan standar keamanan pangan akan terus kami tingkatkan agar dapur ini menjadi contoh nasional,” pungkasnya.
Dapur MBG bukan hanya jawaban atas kebutuhan dasar santri akan makanan bergizi, tapi juga wujud nyata keberpihakan negara dalam membangun SDM unggul dari pesantren. Dengan menyinergikan aspek gizi, ekonomi lokal, dan pendidikan, Dapur MBG Bone diharapkan menjadi inspirasi bagi daerah lain di seluruh Indonesia.***