WartaPesona.com – Gagalnya Timnas Sepak Bola Putri Indonesia melaju ke putaran final Piala Asia Wanita 2026 bukan hanya soal kekalahan skor, tetapi menjadi refleksi nyata atas ketimpangan persiapan dan sistem pembinaan yang masih jauh dari ideal.
Dalam laga terakhir fase grup kualifikasi yang digelar di Indomilk Arena, Sabtu (5 Juli 2025), Garuda Pertiwi harus mengakui keunggulan Taiwan dengan skor tipis 1-2. Hasil ini menyudahi perjuangan mereka untuk tampil di turnamen terbesar se-Asia untuk kategori sepak bola wanita.
Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menyampaikan bahwa kekalahan ini merupakan konsekuensi logis dari keterbatasan waktu persiapan yang hanya berlangsung beberapa bulan, dibanding lawan seperti Taiwan yang telah memulai persiapan sejak dua tahun lalu.
"Perlu waktu. Tim lawan seperti Taiwan sudah dua tahun persiapan. Kita baru beberapa bulan," kata Erick kepada media usai pertandingan.
Baca Juga: Ikaboedoet Cup XVI Siap Digelar: Ajang Silaturahmi Sehat 36 Angkatan Alumni Boedoet Jakarta
Meski demikian, Erick mengapresiasi semangat juang para pemain dan menyebut performa melawan Taiwan jauh lebih baik dibanding saat melawan Pakistan. Hal ini menunjukkan adanya progres, meskipun belum cukup untuk bersaing secara kompetitif di level Asia.
PSSI kini mulai membagi fokus pengembangan dengan membentuk dua kelompok tim: tim senior yang diproyeksikan untuk Piala AFF dan tim usia muda untuk AFC U-19.
Namun, keterbatasan jumlah pemain, minimnya liga profesional putri, serta rendahnya dukungan infrastruktur menjadi tantangan nyata yang tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
"Sudah kebayang siapa saja pemainnya, jumlahnya juga masih tipis. Jadi kita butuh waktu dan konsistensi dalam membangun tim," ujar Erick.
Baca Juga: Dukungan Arief Prasetyo Adi: Semangat Persatuan Alumni Boedoet Melalui Ikaboedoet Cup XVI 2025
Dalam laga terakhir, Indonesia sempat menyamakan kedudukan lewat gol Helsya Meisyaroh di menit ke-47 usai blunder kiper lawan. Namun harapan pupus setelah Taiwan kembali unggul lewat gol spektakuler dari Liu Yu-Chiao di menit ke-75.
Dari tiga laga di grup, Garuda Pertiwi hanya meraih satu kemenangan atas Kirgistan, dan dua kali kalah dari Pakistan dan Taiwan. Mereka pun menutup fase grup tanpa tiket ke putaran final.
Kegagalan ini menjadi sinyal bahwa sepak bola putri Indonesia memerlukan lebih dari sekadar semangat bertanding — melainkan fondasi yang kuat, pembinaan berjenjang, dan dukungan ekosistem sepak bola yang berkelanjutan. ***(SA)