berita

Guru Malaysia Resah Siswa Gunakan Kosakata Bahasa Indonesia, Pengaruh Konten Digital Disorot

Minggu, 6 Juli 2025 | 07:18 WIB
Cuplikan unggahan guru Malaysia yang mengkritik penggunaan kosakata Indonesia dalam karangan siswa, viral dan memicu diskusi tentang pengaruh media. (Instagram)

WartaPesona.com - Seorang guru di Malaysia viral usai meluapkan kekesalannya terhadap kebiasaan baru murid-muridnya yang menggunakan kosakata Bahasa Indonesia dalam tugas karangan Bahasa Melayu.

Unggahan tersebut memicu diskusi luas tentang dampak konten digital lintas negara terhadap bahasa anak-anak.

Dalam unggahan yang ramai diperbincangkan, guru tersebut menyebut bahwa siswa-siswinya mulai sering menulis kata-kata seperti “berencana,” “teman-teman,” dan “rumah sakit”, yang menurutnya tidak termasuk dalam Bahasa Melayu Malaysia yang baku. Ia pun mengingatkan para orang tua untuk lebih memperhatikan konsumsi media anak-anak.

“Cikgu bebel bukan suka-suka… Tolong ye ibu bapa, pantau konten anak-anak. Sekarang karangan penuh perkataan macam ‘berencana, teman-teman, rumah sakit’,” ucapnya dalam unggahan media sosial.

Baca Juga: 'My Favorite': Ketika Seni Instalasi Menyentuh Ruhani dan Teknologi Bertemu Makna Ilahiah

Fenomena ini diduga dipicu oleh dominasi konten berbahasa Indonesia di berbagai platform digital seperti TikTok, Instagram, dan YouTube yang dengan mudah diakses anak-anak Malaysia. Serial drama, vlog, bahkan video edukatif dari Indonesia kini menjadi konsumsi harian bagi banyak remaja dan pelajar di Malaysia.

Namun fenomena ini tak bersifat satu arah. Di Indonesia, pengaruh sebaliknya juga terjadi. Banyak anak-anak Indonesia yang menggunakan kosakata Melayu Malaysia akibat paparan konten dari negeri jiran, terutama dari serial animasi populer seperti Upin & Ipin yang telah lama menjadi tontonan favorit di Indonesia.

Pakar pendidikan di Indonesia, Dr. Dadi Suryadi, M.Pd, menilai bahwa fenomena ini merupakan bagian dari realitas globalisasi bahasa di era digital.

“Ini bukan sekadar pengaruh negatif, tapi bisa jadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahasa nasional di masing-masing negara, sembari membuka ruang apresiasi lintas budaya,” ujarnya.

Baca Juga: Menjawab Tantangan Global, 6 Calon Dubes RI Paparkan Visi Strategis di Hadapan DPR

Polemik ini menjadi pengingat bahwa literasi digital dan pemahaman lintas bahasa semakin penting di tengah arus informasi tanpa batas.

Alih-alih hanya membatasi, para pendidik dan orang tua diharapkan dapat mendampingi anak-anak dalam memilah dan memahami konten, tanpa kehilangan jati diri bahasa nasional masing-masing. ***(SA)

Tags

Terkini

Donald Trump: Kami Jadi Penjaga Selat Hormuz

Selasa, 14 Juli 2026 | 08:51 WIB