'My Favorite': Ketika Seni Instalasi Menyentuh Ruhani dan Teknologi Bertemu Makna Ilahiah

photo author
Tim Warta Pesona 01, Warta Pesona
- Minggu, 6 Juli 2025 | 02:24 WIB
 Iim Rusyamsi saat melihat seni instalasi "My Favorite" karya Muhammad Riyanto tampil memukau di Amuya Gallery, memadukan visual digital dengan pesan spiritual. (1minute.id)
Iim Rusyamsi saat melihat seni instalasi "My Favorite" karya Muhammad Riyanto tampil memukau di Amuya Gallery, memadukan visual digital dengan pesan spiritual. (1minute.id)



WartaPesona.com
– Di tengah dominasi tren digital dan teknologi dalam kehidupan modern, seniman Muhammad Riyanto menyajikan sesuatu yang berbeda dalam karyanya bertajuk “My Favorite”—sebuah seni instalasi berbentuk smartphone yang tidak sekadar visual, tetapi penuh makna spiritual.

Karya ini berhasil merebut perhatian kurator dan pengunjung Exhibition Amuya Painting Competition di Amuya Gallery, Kemayoran, Jakarta.

Tak hanya itu, karya tersebut dinobatkan sebagai karya terbaik (The Best) dalam pameran bertema Hidden GEM: Paradise of Food, Drink & Music yang dikurasi oleh Dimas Ajisaka yang diselenggarakan pada tanggal 21 Juni hingga 3 Juli 2025.

Instalasi berbentuk smartphone ukuran 75 x 150 cm ini menggunakan berbagai material modern seperti akrilik, LED, PVC board, hingga kaca cermin, dikutip dari 1minute.id.

Baca Juga: Jakarta PROVOKE 2025: Wadah Kreatif Perupa Ibu Kota, Wagub Rano Dukung Ekspresi dan Eksperimentasi Seni

Sekilas, tampilannya menyerupai perangkat digital sehari-hari, namun setiap detailnya menyimpan pesan religius dan filsafat kehidupan.

“Smartphone ini bukan hanya tentang teknologi. Di balik simbol makanan, minuman, dan musik, saya sisipkan makna syukur dan kesadaran spiritual,” ujar Riyanto pada pameran yang dibuka oleh Iim Rusyamsi, Ketua Umum OK OCE Indonesia.

Riyanto menafsirkan elemen-elemen digital dengan makna ruhani. Visual pukul 17.00 merujuk pada 17 rakaat salat fardu, jaringan 7G melambangkan 7 ayat Surat Al-Fatihah, dan ikon walkman merupakan lambang dari Ya Sami’—nama Allah yang Maha Mendengar.

Bola mata yang berputar menunjukkan Ya Bashiir, Allah Maha Melihat, simbol kesadaran untuk melihat yang diridhoi-Nya.

Baca Juga: Pilates: Seni Gerak yang Menyatu dengan Kesehatan Tubuh dan Jiwa

Air di bagian atas karya melambangkan kesucian dan keseimbangan, sedangkan peta Indonesia di bawahnya menjadi representasi rasa syukur atas keberagaman dan kekayaan alam negeri ini. Tak lupa, ada pesan penting: sebelum menikmati makanan, minuman, dan musik—awali dengan Bismillah, sebuah pengingat untuk memprioritaskan keberkahan atas kenikmatan dunia.

“Saya ingin menyampaikan bahwa hidup adalah tentang pilihan, dan setiap pilihan kita harus dibimbing oleh nilai-nilai ilahi,” ungkap Riyanto yang merupakan santri dan ahli kaligrafi lulusan Pondok Pesantren Roudlotut Tholibin, Surabaya.

Baca Juga: Penguatan Diplomasi Budaya: Presiden Prabowo dan PM Paetongtarn Kunjungi Pameran Seni dan Kuliner Thailand

Riyanto bukan nama baru. Lukisannya telah dikoleksi oleh berbagai tokoh penting di Indonesia, termasuk Presiden Joko Widodo dan KH. Said Aqil Siradj. Dalam karya My Favorite, ia membuktikan bahwa seni kontemporer bisa menjadi jembatan antara dunia modern dan nilai-nilai ketuhanan. ***(SA)

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsi Achdali

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

Roy Suryo dan Dokter Tifa Ditangkap Kepolisian

Jumat, 19 Juni 2026 | 09:56 WIB

Rusia Siap Tingkatkan Kemitraan dengan ASEAN

Kamis, 18 Juni 2026 | 18:55 WIB
X