Menelusuri Potensi Kopi di Lereng Gunung Sumbing. Sandiaga Uno Cicipi Kopi Nepal Van Java di Kaliangkrik

photo author
Syamsi Achdali, Warta Pesona
- Senin, 6 Maret 2023 | 18:37 WIB
Sandiaga Uno Cicipi Kopi Nepal Van Java di Kaliangkrik | wartapesona.com (Foto : Kemenparekraf)
Sandiaga Uno Cicipi Kopi Nepal Van Java di Kaliangkrik | wartapesona.com (Foto : Kemenparekraf)

WartaPesona.com – Gunung Sumbing merupakan salah satu gunung non aktif yang terletak di Kabupaten Magelang, tepatnya di Kaliangkrik. Lereng Gunung Sumbing dikenal memiliki potensi yang unggul untuk budidaya pertanian, salah satunya adalah kopi.

Sebelumnya, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno pernah singgah di Dusun Pengkol, Desa Ngawonggo, Kaliangkrik, Jawa Tengah pada Sabtu, 3 April 2021 silam untuk kunjungan eduwisata.

Dalam kunjungan tersebut, Menparekraf Sandiaga Uno juga turut mencicipi kopi secara langsung di daerah yang terkenal dengan sebutan Nepal Van Java tersebut seperti keterangan yang diterima dari Kemenparekraf.

Baca Juga: Simak Penjelasan Lengkap Destinasi yang Tersedia di Kepulauan Seribu

“Kopi Kaliangkrik ini enak rasanya, terasa ada rasa honey nya. Program petik sampai mencicipi seperti ini menarik bagi wisatawan. Ini perlu dikembangkan dan dilestarikan di Dusun Pengkol.” ujar Menparekraf Sandiaga Uno.

Sejarah kopi di Kaliangkrik tidak lepas dari perjuangan Rinto,S.Kom, yang merupakan pencetus kopi di Desa Ngawonggo, Kecamatan Kaliangkrik, Kabupaten Magelang. Rinto mulai usaha menanam kopi dengan para petani lokal terhitung sejak tahun 2012, dilansir dari laman bisniswisata.co.id.

Usut punya usut, pengalihan penanaman biji kopi bermula dengan permasalahan harga tembakau yang dianggap cukup merugikan bagi Sebagian besar petani. Untuk menangani hal tersebut, maka muncul inisiatif untuk mengganti tembakau dengan budidaya kopi.

Baca Juga: Bank Syariah Indonesia: Solusi Keuangan Inovatif dan Bertanggung Jawab Sosial

“Saya awalnya membuat perkebunan kopi dengan petani sekitar karena ingin memutus rantai setan tembakau, soalnya lihat petani tembakau tidak diuntungkan,” ujar Rinto.

Hingga berita ini dimuat, diketahui jika pemasaran usaha kopi yang digeluti oleh Rinto dan teman-teman petani lokal sudah mencapai pasar ekspor, seperti Canada, Mesir, Ukraina, dan Finlandia.

Lebih lanjut, Rinto juga mengungkapkan jika Kopi Kaliangkrik yang sedang digelutinya, diolah dengan 4 jenis pengolahan yaitu Full wash, Natural, Honey, dan Kewa.

Baca Juga: Mengulas Peran Bank Syariah Indonesia dalam Meningkatkan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Indonesia

Untuk metode Full wash, biji kopi akan dicuci hingga bersih dan akan ada interaksi dengan air untuk menghasilkan rasa yang lebih ringan. Lalu ada Natural yang mempertahankan keaslian dari kopi, sehingga kaya rasa kopi alamiah.

Sedangkan untuk Honey, seperti namanya yang berarti madu. Honey cenderung memiliki rasa manis karena mempertahankan getah pada biji kopi. Lalu terakhir terdapat Kewa, diolah dengan treatment tambahan sehingga teksturnya ringan namun kaya ras

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsi Achdali

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X