Naik Gunung, Naik Hidup: Filosofi Mendaki Rinjani via Sembalun

photo author
Syamsi Achdali, Warta Pesona
- Sabtu, 27 September 2025 | 00:04 WIB
 Puncak Rinjani 3.726 mdpl dengan lanskap menakjubkan yang jadi impian pendaki. (Sumber Foto: wonderfulimages.kemenparekraf.go.id)
Puncak Rinjani 3.726 mdpl dengan lanskap menakjubkan yang jadi impian pendaki. (Sumber Foto: wonderfulimages.kemenparekraf.go.id)

 

WartaPesona.com - Gunung Rinjani selalu menjadi magnet bagi para pendaki, baik dari dalam negeri maupun mancanegara. Dengan ketinggian 3.726 mdpl, gunung berapi aktif ini bukan hanya gunung tertinggi kedua di Indonesia, tetapi juga menjadi bagian dari “Seven Summits Indonesia” yang prestisius.

Rinjani menyimpan beragam kisah, dari panorama alam menakjubkan hingga perjalanan reflektif para pendakinya.

Dari enam jalur resmi yang tersedia — Senaru, Torean, Timbanuh, Aik Berik, Tete Batu, dan Sembalun — jalur Sembalun menjadi salah satu favorit, seperti yang dikutip dari laman Kemenpar.go.id.

Jalur ini dianggap sebagai jalur tercepat menuju puncak tanpa harus memutar lewat danau.

Baca Juga: Menyapa Pesona Labuan Bajo Lewat Lensa BPOLBF

Pengalaman Mendaki Jalur Sembalun

Galih Agusti – Pendaki menikmati panorama luas di Puncak Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun.
Galih Agusti – Pendaki menikmati panorama luas di Puncak Gunung Rinjani melalui jalur Sembalun. (Sumber Foto: IG Galih Agusti melalui artikel di Kemenpar.go.id)

Salah satu pendaki, Galih Agusti, berbagi kisah perjalanannya menaklukkan Rinjani via Sembalun. Ia memulai pendakian dari Desa Sembalun, setelah menempuh perjalanan panjang dari Jakarta ke Bali, lalu menyeberang ke Lombok.

Pemandangan sabana luas dan sunrise dari Plawangan menjadi suguhan istimewa sepanjang pendakian.

“Pendakian Rinjani itu bukan sekadar naik gunung. Filosofinya dalam banget. Kita pergi untuk pulang, melewati titik lelah terendah, lalu sampai di puncak sebagai tujuan hidup,” kata Galih.

Saat berhasil mencapai puncak, ia mengaku terharu. “Sendirian di pucuk. Dingin, capek, tapi itu momen paling reflektif dalam hidup. Saya menangis, bersyukur impian itu bisa tercapai.”

Baca Juga: Pengalaman Wisata dengan Kereta Cepat Whoosh: Perbedaan Kelas Ekonomi dan Bisnis

Tantangan Summit Attack

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Editor: Syamsi Achdali

Sumber: kemenpar.go.id

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X