gaya-hidup

Apa itu Ogoh-Ogoh Tradisi yang Muncul Sebelum Hari Raya Nyepi? ini Sejarah Awal-Mulanya

Minggu, 10 Maret 2024 | 16:57 WIB
Ogoh-ogoh Bali (Tangkap Layar Youtube Bali Update)

WartaPesona.com – Sebelum merayakan Hari Raya Nyepi, ogoh-ogoh mulai terlihat di jalan-jalan bali.

Ogoh-ogoh biasanya terlihat besar yang diarak banyak orang, dengan bentuk seram dan menakutkan.

Namun, tak sedikit orang mengetahui, apa itu ogoh-ogoh tradisi yang selalu keluar menyambut Nyepi? Simak berikut ulasannya.

Dilansir dari laman resmi bulelengkab.go.id, Ogoh ogoh sendiri diambil dari sebutan ‘ogah-ogah’ menggunakan bahasa Bali, yang artinya sesuatu digoyang-goyangkan.

Baca Juga: 20 Ucapan Hari Raya Nyepi 2024 dalam Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris, yang Penuh Makna

Ogoh-ogoh merupakan karya seni patung dalam kebudayaan Bali yang menggambarkan kepribadian Bhuta Kala.

Dalam ajaran Hindu Dharma Bhuta Kala merepresentasikan kekuatan (Bhu) alam semesta dan waktu (Kala) yang tak terukur dan tak terbantahkan.

Bhuta Kala digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya dalam wujud raksasa.

Dia digambarkan sebagai sosok yang besar dan menakutkan, biasanya dalam wujud raksasa yang juga sering digambarkan dalam wujud makhluk-makhluk hidup di Mayapada, Syurga, dan Neraka, seperti naga, gajah, widyadari.

Baca Juga: Petualangan Akhir Tahun di Bali: Eksotisme Pulau Nusa Penida dan Keajaiban Bawah Lautnya

Bahkan dalam perkembangannya, ada yang dibuat menyerupai orang-orang terkenal, seperti para pemimpin dunia, artis atau tokoh agama, bahkan penjahat.

Sementara, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia edisi tahun 1986, ogoh-ogoh merupakan ondel-ondel yang beraneka ragam dengan bentuk menyeramkan.

Bali memainkan peran penting dalam sejarah ogoh-ogoh pada tahun 1983, dan pada tahun tersebut bentuk-bentuk Bhuta Kala untuk ritual Nyepi mulai dibuat di Bali.

Pada saat itu, ada keputusan presiden yang menyatakan Nyepi sebagai hari libur nasional. Sejak saat itu, beberapa tempat di Denpasar mulai membuat perwujudan Bhuta Kala, yang kemudian dikenal sebagai ogoh-ogoh.

Halaman:

Tags

Terkini