Perbedaan Serigala dan Anjing Liar, Adakah di Indonesia?

photo author
Syamsi Achdali, Warta Pesona
- Senin, 15 Januari 2024 | 05:56 WIB
Ilustrasi, Anjing liar yang mirip dengan Serigala (Freepik/wirestock)
Ilustrasi, Anjing liar yang mirip dengan Serigala (Freepik/wirestock)

Di Indonesia, keberadaan serigala dapat mengganggu kehidupan manusia, seperti membunuh ternak atau hewan peliharaan, sehingga serigala mungkin akan diburu atau ditembak mati oleh penduduk.

Anjing Liar di Indonesia

Meskipun serigala tidak ditemukan di Indonesia, terdapat anjing liar yang dapat dianggap sebagai alternatif hidup di alam Indonesia.

Baca Juga: Jokowi : Lisa Rumbewas Meninggal, Ia Telah Mengukir Banyak Prestasi. Indonesia Berduka

Dikutip dari situs mongabay.co.id, situs tentang ilmu lingkungan alam bahwa anjing liar hidup di alam liar tanpa memiliki pemilik dan sering kali dianggap sebagai spesies merugikan karena dapat menularkan penyakit dan merusak tanaman.

Meski demikian, anjing liar juga memiliki peran penting dalam ekosistem suatu wilayah dengan membantu menjaga populasi hewan lain dalam batas yang sehat.

Seiring dengan pembahasan tentang serigala, kita tidak bisa mengabaikan keberadaan anjing liar asli Indonesia yang disebut anjing ajag.

Jenis ini hidup di hutan belantara dan pegunungan Indonesia, memiliki peran dalam ekosistem hutan, namun terkadang juga menjadi sumber konflik dengan manusia.

Baca Juga: Sandiaga Uno : Spa yang Lebih Sehat dan Kompetitif Kunci Industri Wellness di Bali

Anjing Liar Memangsa Hewan Ternak Warga

Pada akhir Desember 2020, kehebohan muncul di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, seiring munculnya anjing ajag sebagai sorotan utama.

Kehadirannya diduga menjadi penyebab kematian 15 kambing dan satu ekor anak sapi di Desa Ciangir dan Desa Cipondok.

Dilansir oleh Tribun Cirebon, Plt Camat Cibingbin, Imas Minardih, mengungkapkan bahwa kematian ternak warga disebabkan oleh koloni anjing ajag yang terlihat dengan jelas berwarna kuning kecokelatan.

Kejadian ini tidak hanya terbatas pada dua desa, namun menurut Kepala Desa Cipondok, Rudiyanto, sebanyak 25 ekor kambing mati di desa tersebut.

Baca Juga: Mi Instan 'Indomie': Indonesia Tidak Bisa Hidup Tanpanya

Kabupaten Kuningan, yang terletak di wilayah pegunungan dengan puncak tertingginya, Gunung Ciremai (3.078 meter), menjadi latar belakang fenomena ini.

Halaman:
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel
di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizinĀ redaksi.

Editor: Syamsi Achdali

Tags

Artikel Terkait

Rekomendasi

Terkini

X