Baca Juga: Mengoptimalkan Proses Bisnis untuk Keunggulan Kompetitif
Caranya dengan meletakkan busur di depan perut, sehingga bidikan didasarkan pada perasaan pemanah.
Gaya memanah ini sesuai dengan filosofi jemparingan yang tujuannya untuk melatih konsentrasi dan kepekaan batin.
Namun sebagai sebuah tradisi, tata cara jemparingan ini juga mengalami perubahan. Sebagian orang tidak membidik dengan posisi gandewa di depan perut. Namun, dengan posisi sedikit miring sehingga pemanah bisa membidik dengan mata.
Baca Juga: Melukis Keindahan Kota Nafplio: Memanjakan Mata dengan 5 Wisata yang Menakjubkan
Setelah sempat terancam punah, jemparingan ini rutin diadakan sebagai perlombaan atau sekadar hiburan. Beberapa komunitas di Yogyakarta juga membuatnya sebagai salah satu daya tarik wisata.
Kini, jemparingan gaya mataraman ini juga makin digemari oleh kalangan muda, hingga turis asing yang sengaja datang ingin belajar.*** (KKT)
Artikel Terkait
Duel Sengit di Final Coppa Italia: Fiorentina vs Inter Milan
Kemenangan 1-0 Mallorca atas Valencia: Vedat Muriqi Menjadi Pahlawan
Pertarungan Sengit di Old Trafford: Manchester United Raih Kemenangan 4-1 atas Chelsea
Sampdoria vs Sassuolo: Duel Akhir dengan Penuh Haru dan Semangat
Mercedes Mengaspal dengan Sinyal Positif: Perkembangan W14B di GP Monaco
AC Milan Mengamankan Tiket ke Liga Champions Usai Menang 1-0 di Kandang Juventus
Real Sociedad Mengamankan Tiket ke Liga Champions: Keberhasilan yang Luar Biasa
Lazio Memetik Kemenangan Penting atas Cremonese di Pekan ke-37 Liga Italia 2022-2023
Barcelona Melaju Mengesankan: Kemenangan 3-0 atas Real Mallorca dengan Ansu Fati sebagai Bintang Utama
Menantikan Pertandingan Sengit: Manchester City vs Manchester United dalam Final Piala FA