bisnis-umkm

JP Morgan Ramal IHSG Menguat di Paruh Kedua 2025, Konsumsi Domestik dan Belanja Pemerintah Jadi Penopang

Jumat, 5 September 2025 | 07:49 WIB
Ilustrasi pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG) yang diprediksi meningkat pada Semester II 2025. (Unsplash.com/Annenygard)

WartaPesona.com – Prospek pasar modal Indonesia diperkirakan semakin positif pada paruh kedua 2025 hingga 2026. Keyakinan ini disampaikan JP Morgan Indonesia yang menilai kombinasi belanja pemerintah, stabilitas nilai tukar, dan tren penurunan suku bunga global akan menjadi penopang utama.

Head of Indonesia Research and Strategy JP Morgan, Henry Wibowo, menjelaskan bahwa ketidakpastian global dan tensi perdagangan internasional masih akan memberi tekanan di awal 2025. Namun, menurutnya, outlook ekonomi domestik justru berbalik lebih menjanjikan di semester berikutnya.

“Belanja pemerintah akan menjadi katalis penting. Saat belanja naik, konsumsi masyarakat ikut terdorong sehingga pertumbuhan ekonomi akan lebih kuat,” kata Henry dalam Media Briefing di Jakarta, Kamis, 4 September 2025.

Baca Juga: Generasi Milenial Kian Sadar Dana Darurat, Warisan Berharga dari Krisis Ekonomi 2008

Ia menambahkan, valuasi pasar modal Indonesia masih relatif murah dibanding negara-negara Asia Pasifik. Rasio price to earnings (PER) IHSG saat ini berada di angka 12 kali, salah satu level terendah di kawasan.

Walaupun tahun ini laba korporasi diperkirakan tertekan hingga minus 5 persen, JP Morgan optimistis pada 2026 akan terjadi rebound. “Kami melihat ada potensi kenaikan laba antara 5 sampai 10 persen,” ujarnya.

Menurut Henry, fundamental pertumbuhan laba perusahaan tetap menjadi faktor utama yang menarik bagi investor. “Jika perusahaan mampu tumbuh 50 persen dalam 3 tahun, investor rela membayar valuasi lebih mahal. Tanpa pertumbuhan, momentum hanya bersifat sementara,” tambahnya.

Baca Juga: Nasabah Keluhkan Aplikasi Byond Milik Bank BSI yang Error, Kesulitan Transaksi hingga Uangnya Tertahan

Faktor lain yang dipandang penting adalah arah kebijakan moneter. JP Morgan memproyeksikan The Fed akan menurunkan suku bunga acuan hingga 75 basis poin tahun ini. Sementara itu, Bank Indonesia diperkirakan berpotensi memangkas BI Rate ke 4,25 persen.

“Stabilitas dolar AS juga membantu menjaga nilai rupiah tetap terkendali,” kata Henry.

Selain itu, rancangan APBN 2026 turut mendapat perhatian. Henry menilai keseimbangan antara target pertumbuhan ekonomi dan defisit fiskal memberikan sinyal positif. “Anggaran ini sudah cukup baik, tinggal bagaimana pelaksanaannya. Eksekusi yang tepat akan membawa dampak positif,” jelasnya.

Baca Juga: OJK Pastikan Likuiditas dan Solvabilitas Lembaga Keuangan RI Masih Kuat

Dengan dukungan faktor-faktor tersebut, JP Morgan menyarankan investor mencermati sejumlah sektor. Konsumer dinilai akan menguat seiring meningkatnya belanja pemerintah. Di samping itu, sektor pertambangan terutama nikel diproyeksikan cerah, serta sektor-sektor sensitif terhadap suku bunga seperti otomotif dan properti yang berpotensi jadi incaran.***(SA)

Tags

Terkini

Bisnismu Gitu-Gitu Aja ? Yuk Coba 7 Tips UMKM Ini!

Senin, 24 November 2025 | 10:36 WIB